AS-Rusia Setuju Gencatan Senjata untuk Suriah

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : Leonard AL Cahyoputra | Rabu, 24 Februari 2016  | 14:49 WIB

DAMASKUS - Amerika Serikat (AS) dan Rusia mengumumkan rencana gencatan senjata parsial di Suriah. Sejumlah kalangan sangat ragu kesepakatan itu dapat berlaku sebagaimana direncanakan pada Sabtu (27/2).
Perjanjian tersebut tidak berlaku untuk jihadis seperti kelompok Negara Islam (NI) dan Front A1 Nusra. Akibatnya, susah untuk diperkirakan bagaimana gencatan dapat diterapkan di medan tempur yang kompleks seperti Suriah.

Kesepakatan itu merupakan seruan bagi Presiden Suriah Bashar A1 Assad dan pasukan oposisi agar menyetujuinya pada Jumal (26/2) siang waktu setem-pat. Bila tercapai, gencatan dapat mulai diberlakukan pada tengah malamnya.

Kelompok oposisi utama mau menerimanya tapi bersyarat. Sedangkan rezim berkuasa belum memberikan komentar, setelah kesepakatan itu diumumkan pada Senin (22/2) malwam waktu setempat.

Rusia dan AS memimpin upaya diplomatik terbaru untuk mengakhiri perang saudara di
Suriah yang sudah berlangsung hampir lima tahun. Konflik brutal ini telah menewaskan lebih

dari 260.000 orang dan memaksa

jutaan lainnya mpngungsi.

Tapi kedua negara tersebut memihak dalam konflik di Suriah. Rusia mendukung Assad dan AS mendukung oposisi. Namun dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Rusia bergabung untuk mewujudkan terjadinya gencatan senjata.

“Ini adalah jendela kesempa-tan dan kami berharap semua pihak akan memanfaatkannya,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, setelah Presiden AS Rarark Obama clan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kesepakatan melalui telepon.

Putin mengatakan. Rusia akan melakukan apa pun yang diper-lukan untuk memastikan Suriah menghormati kesepakatan.

“Kami mengandalkan AS un-
tuk melakukan hal yantr sama dengan sekutu-sckutunya dan kelompok-kelompok yang mendukung,” kata dia.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon menyebut kesepakatan itu adalah sinyal harapan yang telah lama ditunggu-tunggu dan mendesak semua pihak untuk meniatuhinya.

Rusia dan AS saat ini masih melancarkan serangan udara di Suriah. Koalisi pimpinan AS melancarkan serangan udara terhadap posisi-posisi Nl di Suriah dan Irak pada 2014. Sedangkan Rusia baru melakukan hal yang sama pada September tahun lalu.

Rusia menyatakan, pihaknya menargetkan para teroris dalam serangan itu. Tetapi dituduh menyerang kelompok-kelompok non-jihad dalam usahanya mendukung Assad.

Iran juga telah mengirimkan penasihat militer ke Suriah. Gerakan Syiah Lebanon Hizbullah, yang didukung Iran, sedikitnya telah mengerahkan 6.000    militan untuk berjuang bersama pasukan Assad.

Kalangan analis mengatakan, menginKal fakta di lapangan, khususnya rumitnya kekuatan oposisi Suriah dan kerap terjadi pergantian di garis depan, gencatan spnjata mungkin sudah ditakdirkan untuk gagal.

Sementara itu, kontrol NI atas wilayah relatif jelas dan stabil.
Rival iihadisnya, Fron A1 Nusra,

yang merupakan afiliasi lokal A1 Qaeda, bekerja sama dengan banyak kelompok pemberontak lainnya. “Penghentian pennusu-han memungkinkan serangan terhadap Nusra. Ini akan seperti malapetaka, sejak Rusia dan r^zim cenderung untuk memukul orang lain dan menyalahkan Nusra atau NI),H ucap Noah Bonscy, acorang analis senior di International Crisis Group via di Twitter.

Rencana gencatan senjata Suriah diungkapkan para diplomat tinggi di Munich, Jerman awal bulan ini. Tapi, gagal untuk dilaksanakan pekan lalu seperti rencana awal. *

Selain untuk mengurangi kekerasan dan memperluas akses kemanusiaan, gencatan bersenjata bertujuan untuk membuka jalan bagi dimulainya kcmbali perundingan perdama-ian yang runtuh awal bulan ini di Jenewa, Swiss.

Pembiearaan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada 25 Februari 2016,    tetapi utusan PBB untuk Suriah mengakui bahwa saat pembiearaan itu tidak lagi real-istis. Komite Negosiasi Tinggi oposisi (HNC) mengatakan, komitmennya untuk gencatan senjata tergantung pada penghentian pengepungan, pembe-basan tahanan, penghentian pemboman warga sipil, dan pe-ngiriman bantuan kemanusiaan.

(afp)