Segera Pasti, Insentif Harga Gas Industri

Media : MEDIA INDONESIA | Wartawan : Tesa Oktiana |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Selasa, 07 Juni 2016  | 13:04 WIB

Ada tujuh industri yang diprioritaskan bakal mendapatkan harga gas bumi khusus.

ATURAN turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi akan keluar pekan ini.

Petunjuk pelaksanaan Cj uklak) dalam bentuk peraturan menteri (permen) itu nantinya akan memperjelas irnplementasi penurunan harga gas industri yang me-rupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi jilid III dan semestinya berlaku sejak awal tahun ini.

“Pekan ini keluar permen-ny a, tap! kan masih ada proses lainnya lagi (termasuk admi-nistrasi untuk pengesahan) yang harus dilalui,” ujar Direk-tur Pembinaan Program Migas Agus Cahyono Adi saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, substansi teknis yang diatur dalam permen tersebut cenderung me-nyasar penjualan gas langsung dari produsen atau kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) ke industri pengguna gas, dalam artian tanpa perantara (trader).

Sementara itu, terhadap revisi kontrak perjanjian jual beli gas (PJBG), Agus menga-takan prosesnya tetap berjalan paralel seiring dengan akan diterbitkannya permen tersebut. Hanya, dia belum bisa memastikan kapan revisi PJBG rampung. Sebagai informasi, pemerintah terlebih dahulu menyisir 15 PJBG dari 31 PJBG di kawasan Jawa dan Sumatra yang harga jualnya berpotensi diturunkan lantaran di kisar-an US$6,31 hingga US$8,22 per juta British thermal unit (mmbtu).

“Secara paralel (revisi harga kontrak PJBG) kita lakukan. Soal penerimaan negara, masih dikajiimbuhnya.

Nantinya, saat harga jual gas berada di atas US$6 per mmbtu sebagaimana yang telah ditetapkan dalam beleid baru tersebut, Menteri ESDM memiliki kewenangan untuk menetapkan harga gas terten-tu melalui koordinasi dengan Kementerian Perindustrian.

Di akhir 2015, pelaku usaha pengguna gas bumi dan Kementerian Perindustrian telah merumuskan harga gas yang efisien bagi industri tetapi juga tidak merugikan penerimaan negara. Keputusan bersama itu sudah tertuang di dalam surat yang dikirimkan Kemenperin kepada Kementerian ESDM pada 11 November 2015.

Dalam surat itu, usul harga ideal gas yang bisa dibeli industri sebesar US$7,18 per mmbtu di Jawa dan US$8,9 per mmbtu di Sumatra Utara.

Pelaku usaha pun mengusulkan pengaturan harga itu juga mencakup penurunan biaya distribusi yang dibebankan badan usaha gas. Saat ini harga gas yang dibeli pelaku usaha dari perusahaan distribusi dan transmisi gas di kisaran US$9,1 per mmbtu dengan rincian dari rata-rata harga gas hulu US$7,56 per mmbtu plus biaya distribusi Rp700 per meter kubik.

Tujuh industri prioritas

Dalam menanggapi hal itu, Menteri Perindustrian Saleh Husin meyakini turunan Perpres 40/2016 itu akan sangat membantu industri dalam negeri. Salah satunya karena ada ruang untuk peninjauan
harga, sesuai dengan nilai keekonomian industri pengguna. Namun, itu tetap menjadi kewenangan Menteri ESDM berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian.

“Penetapan harga memper-hatikan daya saing industri serta harga gas yang berkem-bang di pasar domestik dan in-temasional. Dengan demikian diharapkan, industri yang cost structure-nya sangat bergan-tung pada perubahan harga gas diharapkan berdaya saing dan memberikan multiplier effect di dalam negeri dalam menghadapi persaingan global,” papamya.

Hingga kini ada tujuh industri yang bakal mendapat harga gas bumi khusus pascapener-bitan beleid baru itu, yakni pupuk, petrokimia, oleochemi-cal, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan. (E-4)