Peta Zona Bencana Kurang Disosialisasikan

Media : MEDIA INDONESIA | Wartawan : Ardi Teristi Hardi | Rabu, 22 Juni 2016  | 14:19 WIB

Jika masyarakat I patuh dengan tata j ruang dan rambu- | rambu pada zona bahaya, timbulnya korban jiwa bisa diminimalkan.

PEMERINTAH daerah perlu mengedukasi masyarakat secara terus-menerus terkait zona bahaya bencana. Dengan edu-kasi itu, masyarakat dapat taat dan mematuhi rambu-rambu bahaya bencana yang ada. “Setiap daerah telah menyu-sun pemetaan zona bahaya bencana. Pemetaan itu seharusnya diintegrasikan ke tata ruang. Jika masyarakat patuh dengan tata ruang dan rambu-rambu pada zona bahaya tersebut, timbulnya korban jiwa bisa diminimalkan,” kata pakar tanah longsor (landslide) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dwikorita Kar-nawati, kemarin.

Tata ruang yang d is usun, lanjut Rektor UGM itu, harus terintegrasi dengan lokasi zona bahaya bencana, seperti rentan tanah longsor dan banjir.

“Misalnya, zona bahaya bencana bukan untuk lokasi budi daya tanaman atau permuki-man, dan itu masyarakat harus patuh,” tambah Dwikorita.

Pendapat senada disampaikan pakar kebencanaan UGM lainnya, Agung Setianto. Ia me-nyoroti kendala dalam mitigasi bencana, salah satunya terkait ketersediaan data peta geologi yang belum detail.

Di sisi lain, Wakil Bupati Ban-jarnegara, JawaTengah, Hadi Supeno membantah jika dise-but daerah tidak memiliki peta bencana dan tidak menyosiali-sasikan kepada masyarakat.

“Kami bersama seluruh apa-rat dari kabupaten hingga ke desa terus melakukan sosialisa-si di wilayah yang rawan bencana. Namun, faktor penyebab berulangnya bencana sangat kompleks, tak hanya mengguna-kan peta bencana sebagai acuan pembangunan,” ujarnya.

la menyebut, di Kabupaten Banjamegara kerap terjadi tanah longsor yangmenyebabkan korban jiwa. Diakhir20141alu, misalnya, di Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar, terjadi tanah longsor yang menelan ratusan korban jiwa.

Landa Sangihe

Hujan deras yang turun terus-menerus selama dua hari juga mengakibatkan banjir bandang di Desa Kolongan Akembawi, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, kemarin malam.

Sampai berita ini diturunkan, empat korban hilang masih dalam pencarian. Ketinggian air yang sempat mencapai 40 cm mulai surut. Warga bersama tim SAR. terus berupaya men-cari korban.

Selain korban jiwa, banjir aki bat hujan deras selama dua hari tersebut juga meluluhlantakkan 40 rumah penduduk. Akibat-nya, 200 keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang la-yak huni dan aman.

Selain di Sangihe, banjir dan tanah longsor juga menerjanj permukiman warga di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Bukan hanya merusak rumah warga, banjir dan longsor juga memu-tus akses jalan.

Sementara itu di Jateng, tim SAR gaiungan kembali mene-mukan rujuh korban yang ter timbun di Purworejo. Ketujuh korban dalam kondisi tewas, kemarin. (Tim Media/X-8)