Pertamina Geothermal Pengembang Panas Bumi Terbesar

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Kamis, 30 Juni 2016  | 14:46 WIB

JAKARTA - FT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), merupakan pengembang panas bumi terbesar di Indonesia saat ini. PGE mengelola 13 lapangan panas bumi, balk yang dilakukan sendiri maupun melalui Kontrak Operasi Bersama dengan PT Chevron Geothermal Indonesia, FT Star Energy dan Sarulla Operations Ltd dengan install capacity sekarang 1438,5 megawatt (MW)

“Pengembangan lapangan panas bumi hingga menghasilkan listrik membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun. Sehingga sampai 2019 nanti masih akan didominasi oleh PGE,” ujar Yunus Saefulhak, Direktur Panas Rumi Direktorat Energi Baru Terbaru-kan dan Konservasi Energi Kemente-rian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),'Selasa (28/6).

Menurut Yunus, beberapa lapangan PGE yang akan beroperasi pada tahun

ini di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Karaha 30 MW dan Ulubelu unit 3 sebesar 55 MW. Selain itu, PLTP Lumut Balai unit 1 sebesar 55 MW (2017), Hululais 55 MW (2018), dan Sungai Penuh 55
MW (2019). Selain itu, dari lapangan Sarulla yang dikelola KOB PGE-Sarula

akan beroperasi 2016 sebesar 110

MW.

“Dan ditargetkan dari 13 lapangan tersebut akan menghasilkan kapasi-tas terpasang sekitar 2.000 MW pada 2019,” ungkap dia.

Yunus mengatakan penugasan kepada badan U3aha millk negara (BUMN) merupakan salah satu terobosan untuk mempercepat pengembangan panas bumi yang juga diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi. Karena begitu besarnya target yang harus dicapai pada 2025, yaitu sebesar 7.200 MW sesuai Kebijakan Energi Nasional.

“Perlu kita tugaskan Pertamina melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Selain kita juga melakukan lelang untuk mendapatkan investor selain Rertamina,” katanya.

Menurut Yunus, saat ini Kemente-rian ESDM masih melakukan evalu-asi terhadap lapangan atau Wilayah Keija Panas Bumi (WKP) yang akan ditugaskan kepada Pertamina dan dua BUMN lainnya.
Pertamina memang perusahaan pengembang panas bumi pertama di Indonesia dengan keberhasilan mengoperasikan lapangan Kamojang sejak 1983. Pengalaman dan keahlian BUMN tersebut tentu menjadi nilai

positif untuk membantu pemerintah melakukan percepatan pengembangan panas bumi. Namun pemerintah juga membutuhkan investor dalam mencapai target pengembangan panas bumi yang termasuk besar ini. Hal ini mengingat BUMN juga memiliki keterbatasan pendanaan, sementara proyek panas bumi memiliki risiko tinggi dan padat modal.

“Keuntungannya utama kita pu-nya kedaulatan dan kemandirian energi bagi bangsa kita sendiri melalui BUMN," tegas Yunus.

Tafif Azimudin, Sekretaris Perusahaan Pertamina Geothermal, mengatakan perseroan tetap optimistis bisa menjadi perusahaan yang memiliki kapasitas PLTP terbesar, yakni 682 MW pada 2017. Kapasitas pembangkit PGE berasal dari PLTP Kamojang 235 MW, Lahedong 125 MW, Ulubelu 220 MW, Sibayak 17 MW, Lumut Balai 55 MW dan Karaha 30 MW. (es)