Pertamina Segera Ekspansi Bisnis BBM ke Myanmar dan Kamboja

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : Retno Ayuningtyas |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Senin, 18 Juli 2016  | 13:32 WIB

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menyatakan optimis bisa segera melebarkan pasar bisnis bahan bakar minyak (BBM) hingga ke negara lain, yakni Myanmar dan Kamboja. Bisnis retail BBM ke dua negara ini ditargetkan bisa dimulai dalam waktu dekat ini.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, pihaknya sebenamya telah mendapat ajakan kerja sama dengan perusahaan migas swasta asal Kamboja, PAPA Petroleum CO Ltd, untuk menggarap bisnis BBM di negaranya. Namun, kerja sama itu belum terlaksana lantaran Kamboja belum memiliki perusahaan migas pelat merah.

“Jadi kami membantu Kamboja untuk membentuk BUMN migasnya. Kalau . BUMN sudah jadi, baru nanti kami membentuk joint venture (perusahaan patungan) bersama,” kata dia kepada Investor Daily, pekan lalu. Sehingga, Pertamina akan mendapat saham, bukan sekedar proyek BBM saja.

Menurut Bambang, perusahaan swasta yang bergerak di bisnis retail BBM di Kamboja sudah cukup banyak. Karenanya, jika dapat membentuk perusahaan patungan dengan BUMN migas negara tersebut, Pertamina bakal masuk ke bisnis BBM yang lebih besar, yakni menjamin ketahanan pasokan BBM di Kamboja. “Jadi nanti perusahaan retail BBM yang ada akan mengambil pasokan dari kami,” ujarnya.

Sejauh ini, lanjutnya, Pertamina telah menyampaikan proposal kepada Pemerintah Kamboja terkait apa saja
yang diinginkan perseroan. Meski belum mau memas-tikan kapan ekspansi ke Kamboja terjadi. Bambang optimis bisnis retail di Kamboja ini bisa segera dimulai tahun ini juga.

Namun, tambah Bambang, pihaknya tidak akan menunggu sampai BUMN migas Kamboja terbentuk. Melalui anak usahanya, PT Pertamina Retail, perseroan juga berniat langsung masuk ke bisnis retail BBM di Kamboja. Pertamina telah melihat fasilitas terminal BBM yang ada di Kamboja.

“Secara paralel, kami melalui Pertamina Retail bisa kerja sama dengan perusahaan swasta di sana,” kata Bambang. Perseroan tengah melakukan negosiasi untuk kerja sama ini.

Sementara itu terkait ekspansi bisnis ke Myanmar, Bambang menjelaskan, pihaknya masih menunggu pengUItlU-man pemenang lelang menyusul perubahan pemerintahan di negara tersebut. Myanmar baru saja merampungkan peleburan Kementerian Kelistrikan dan Kementerian Energi menjadi Kementerian Kelistrikan dan Energi pada Mei lalu. Menteri U Pe Zin Tun ditunjuk sebagai orang nomor satu kementerian ini yang sebelumnya dirangkap oleh Aung San Suu Kyi.

“Walau sudah ada pemenangnya, tetapi masih dihold dulu pengumumannya,” tutur dia. Namun dia optimis bisnis ini bisa dimulai pada tahun ini juga.

Jika berhasil memenangkan lelang ini, jelasnya, perseroan akan langsung ikut memiliki 12 teminal BBM dan 1.350 SPBU yang ada di Myanmar. Pasalnya dalam lelang ini, Myanma Petroleum Products Enterprise (MPPE), perusahaan migas pelat merah Myanmar, mencari mitra untuk membentuk perusahaan patungan. '

“Jadi begitu memang, saya mendapat saham 49%, termasuk seluruh fasilitas yang dimiliki,” ujar Bambang. Pertamina siap mengucurkan dana untuk investasi sebesar US$ 33 juta.

Pada Juli 2015 lalu, MPPE mengumumkan lelang mencari mitra asing untuk membentuk perusahaan patungan. Perusahaan itu nantinya akan bertanggung jawab untuk impor, pcnimbunan, distribusi, dan penjualan produk minyak mentah. Selain itu, perusahaan patungan juga akan merehabilitasi fasilitas yang ada dan melakukan ekspansi bisnis. Pemenang lelang akan meneken kontrak untuk 30 tahun dan memiliki 49% saham.

MPPE merupakan salah satu pemain terbesar bisnis hilir migas di negaranya. Saat ini MPPE menangani seluruh pasokan produk minyak mentah di Myanmar. Tidak hanya itu, perusahaan ini juga menjual pasokan BBM ke perusahaan swasta di Myanmar. Pasalnya, meski terdapat 70 perusahaan swasta yang memiliki SPBU di Myanmar, hanya sedikit yang memiliki tangki timbun atau lisensi untuk mengimpor BBM:

Bisnis Bagus

Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai langkah Pertamina melakukan ekspansi bisnis BBM hingga ke luar negeri ini cukup bagUS. Sebagai perusahaan, perseroan harus mendapatkan laba dari bisnis yang digarapnya.

“Selain itu, ini langkah bagus agar dapat pasar sejalan dengan rencana Pertamina membangun kilang,” kata dia.

Produk olahan dari kilang, lanjut dia, harus diekspor jika memang ada kelebihan yang tidak bisa diserap oleh pasar dalam negeri. Dengan Pertamina telah melakukan ekspansi ke Myanmar dan Kamboja, maka perseroan telah mengamankan pasar terlebih dahulu.

Pertamina tengah menggarap upgrading dua unit kilang yang dimilikinya, yakni Kilang Cilacap di Jawa Tengah dan Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur. Selain itu, perseroan juga akan membangun dua kilang baru di Tuban, Jawa Timur dan Bontang, Kalimantan Timur. Pertamina juga akan melakukan upgrading untuk dua unit kilang lainnya, yakni Kilang Dumai di Riau dan Kilang Balongan di Jawa Barat.

Ketika seluruh proyek kilang ini selesai, Pertamina memperkirakan kapasitas kilang akan meningkat menjadi 2 juta barel per hari (bph). Angka ini setara dengan prediksi konsumsi BBM nasional pada 2023. Sehingga, ada potensi Pertamina mengekspor BBM ketika permintaan dalam negeri turun. "Pertamina harus pastikan dalam negeri aman. Itu nomor satu. Kalau ada kelebihan, bisa diekspor,” tegas Marwan.