AS Puas dengan Sikap ASEAN Putusan Mahkamah Dibahas melalui Mekanisme Bilateral

Media : KOMPAS | Wartawan : (AP/AFP/REUTERS/JOS) | Kamis, 28 Juli 2016  | 12:52 WIB

MANILA, SELASA — Berbeda dari kritik yang sempat berkembang, tidak disebutnya putusan Mahkamah Arbitrase Internasional dalam komunike bersama justru dinilai sebagai wujud kemenangan diplomasi damai ASEAN. Hal itu tampak dari pemyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay, Rabu (27/7), di Manila

Mereka menilai, posisi yang diambil ASEAN bukan merupakan bentuk kemenangan Tiongkok. Posisi itu justru menunjuk-kan banyak pihak, terutama ASEAN dan Filipina, yang ber-upaya keras membangun kepercayaan dan menghindari konfrontasi.

Kerry mengatakan, Washington pun sangat ingin menghindari konfrontasi di Laut Tiongkok Selatan. ’’Keputusan itu sen-diri adalah keputusan yang mengikat, tetapi kami tidak men-coba membuat konfrontasi. Kami berusaha untuk membuat solusi
di mana hak-hak setiap pihak dijamin berdasarkan hukum,” kata Kerry merujuk putusan mahkamah.

Kerry pun mengapresiasi Komunike Bersama ASEAN yang secara tegas mempeijuangkan penegakan hukum. Tidak disebutnya putusan mahkamah in-temasional terkait gugatan Filipina, menurut Kerry, tidak me-ngurangi nilai penting dari komunike itu. Ia menyatakan sangat puas dengan komunike ASEAN. Setiap anggota asosiasi menunjukkan sikap mendukung aturan hukum meski dibayangi
perkara arbitrase.

’’Kadang-kadang, pertemuan seperti itu dan diplomasi, Anda tidak selalu harus menyertakan setiap kata yang mungkin kadang membuat lebih sulit untuk sam-pai ke dialog yang Anda ingin-kan,” kata Kerry.

Sebaliknya, ia berharap ada proses yang mempersempit ru-ang lingkup geografis dari sengketa maritim. "Menetapkan stan-dar perilaku di wilayah yang di-perebutkan, membangun solusi yang dapat diterima setiap pihak, bahkan mungkin berupaya membangun sikap saling percaya,” kata Kerr>r.

Mekanisme bilateral

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, sejumlah pihak sempat meragukan soliditas ASEAN se-kaligus menyoroti keberhasilan Tiongkok—lewat Kamboja dan Laos—membujuk asosiasi itu untuk tidak menyebutkan putusan mahkamah dalam komunike mereka. Banyak pihak pun berharap Filipina dapat meyakinkan mit-
ranyadi ASEAN untuk menyebut putusan itu dalam komunike.

Di depan sejumlah wartawan seusai pertemuaruiya dengan Kerry, Menlu Filipina Perfecto Yasay menepis dugaan bahwa Manila kurang kokoh memper-juangkan harapan itu dan men-jadikannya bagian dari kemenangan diplomasi Beijing. Menurut dia, Filipina telah dengan penuh semangat mendorong agar putusan itu dapat diakomodasi.

’’Saya mengatakan ini untuk menghilangkan laporan yang menyebutkan bahwa Tiongkok ke-luar sebagai pemenang karena dalam pertemuan ASEAN kami justru sepakat untuk tidak menyebutkan putusan arbitrase,” kata Yasay.

Ia kembali menegaskan bahwa putusan mahkamah adalah hagi-an dari persoalan bilateral antara Manila dan Beijing, bukan persoalan yang harus ditangani ASEAN. Yasay pun inenegaskan. tidak ada satu pihak pun menjadi yang kalah dan komunike bersama—yang menuai banyak kri-
tik—justru merupakan kemenangan ASEAN. "Komunike itu membuat ASEAN lebih kredibel di mata masyarakat internasional serta membuatnya menjadi lebih efektif dan relevan sebagai ke-lompok regional,” kata Yasay.

Bahkan, dengan tegas ia mengatakan, komunike itu adalah wujud dari kemenangan ASEAN yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip hukum intema-sional dan menyikapi sengketa yang ada secara damai. Resolusi terkait sengketa antara Filipina dan Tiongkok, menurut dia, menjadi masalah bilateral yang harus melalui mekanisme bilateral.

Terkait sengketa di Laut Tiongkok Selatan dan putusan mahkamah, juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, Ernesto Abella, mengatakan, dalam pembicaraan dengan Kerry, Presiden Duterte tetap menegaskan bahwa setiap pembicaraan bilateral dengan Tiongkok selalu akan dimulai dengan putusan mahkamah.