Rapor Kilap Emiten Kakap

Media : BISNIS INDONESIA | Wartawan : | Jumat, 29 Juli 2016  | 14:32 WIB

JAKARTA — Kinerja emiten berkapitalisasi pasar raksasa mulai menggeliat. Pundi-pundi perusahaan kakap pun kian mengge-lembung seiring dengan pemulihan pertumbuhan ekonomi dan potensi repatriasi dalam program amnesti pajak.

Rekapitulasi kinerja tujuh dari 10 eiliiten berkapitalisasi jumbo yang telah merilis laporan keuangan paruh pertama tahun ini menunjukkan pertumbuhan laba bersih 7,13% menjadi Rp47,48 triliun. Padahal pada kuartal sebelumnya, laba bersih emiten big cap hanya tumbuh 4,96%.

Emiten pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menjadi jawaTJ dengan Pertumbuhan laba bersih tertinggi 80,58% sebesar Rp4,37 triliun.

Sebaliknya sesama bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) harus rela menjadi emiten paling terpuruk dengan pcnurun-an laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk 28,63% menjadi Rp7,08 triliun.

Pendapatan yang dikantongi emiten big cap tercatat tumbuh 5,37% menjadi Rp294,39 triliun. Pertumbuhan pendapatan tertinggi terjadi pada PT teiekomunikasi Indonesia (Pei-sero) Tbk.
sebcsar 15,58% menjadi Rp56,45 triliun.

Secara keseluruhan, laba bersih tujuh einiten big cap mpwakili 46,59% dari pro-yeksi konsensus sepanjang tahun sebesar Rpl01,9 triliun. Laba Telkom inenempati posisi puncak dengan raihan 53,62% dari proycksi konsensus sepanjang tahun ini.

Pendapatan tujuh emiten semester 1/2016 mencapai 48,98% dari proyek-si konsensus sepanjang tahun sebesar Rp601,07 triliun. BBN1 kembali menya-bet posisi capaian pendapatan tertinggi 52,17% dari proyeksi sepanjang tahun sebesar Rp39,33 Iriliun.

Adapun raksasa otomotif PT Astra International Tbk. (ASH) harus mene-lan pil pahit dengan koreksi laba bersih 11,79% dan pendapatan 4,65% year-on-year (yoy)pada paruh pertama tahun ini.

Akan tetapi, koreksi laba dan pendapatan ASII terus mengecil sejak kuartal 1/2016 setelah akhir tahun lalu mencapai penunmaii paling dalam. Capaian laba Astra mencerminkan 42,96% dari proyeksi konsensus sepanjang tahun.

Dirut Astra International Prijono Su-giarto mengatakan tantangan terbesar ki-nerja perseroan pada paruh perlama tahun ini berasal dari pelemahan harga komo-ditas, pcrmintaan terhadap alat berat, pcnurunan volume bisnis kontraktor per-tambangan, dan peningkatan kredit ber-masalah di PT Rank Permata Tbk. (BNLI) _ yang masih akan terasa

33,33 hingga akhir tahun.
Kinerja anak usaha ASH di sektor alat berat dan pertambangan menjadi lini paling terpuruk dengan penurunan 45% menjadi Rpl,12 triliun dari Rp2,04 triliun. Lini jasa keuangan mengekor dengan koreksi 40% menjadi Rpl,25 triliun dari Rp2,08 triliun.

Sektor penopang utama Grup Astra masih digenggam oleh divisi otomotif yang tumbuh 13% (yoy) mencapai Rp3,86 triliun dari Rp3,42 triliun. Pertumbuhan laba tertinggi terjadi di sektor infrastuktur, logistik, dan lainnya yang melesat 156% menjadi Rpl74 miliar dari Rpf>8 miliar.

Direktur Utama PT Bank Kakyat Indonesia Tbk. (BBR1) Asmawi Syam mengungkapkan kinerja perseroan masih sejalan dengan target. Adapun laba BBRI berdasarkan konsensus Bloomberg hingga akhir 2016 mencapai Rp25,82' riliun, tumbuh 1,67% (yoy). “Kami optimistis tumbuh lebih baik. Kami melihat ada peluang dari program pengampunan pajak."

EKONOMI MEMBAIK

Analis PT Danareksa ^kuritas Lucky Bayu Purnomo menilai positifnya k'lurja emiten big cap didorong oleh membaiknya

pertumbuhan ekonomi pada paruh perta-ma tahun ini bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kuartal 1/2016 saja, pertumbuhan ekonomi mencapai 4,92% lebih tinggi dari 4,71% pada 2015.

"Pencapaian itu bisa menjadi potret bahwa pertumbuhan ekonomi ikut mendorong kualitas kinerja emiten berkapita-lisasi pasai besar,” katanya, Kamis (28/7).

Sebelum emiten merilis kinerja semester 1/2016, IHSG nyaris menyentuh level 5.300. Kemarin, IHSG ditutup menguat 0,95% ke level 5.274,36 dengan lonjakan sejak awal tahun sebesar 14,83%.

Nilai tukar rupiah juga menjadi pendo-rong berikutnya bagi emiten untuk meraup keuntungan. Penguatan rupiah nyaris ke level Rpl 3.000 per dolar AS, jauh lebih baik dari Rpl4.500 per dolar AS, dan mcm-berikan keuntungan selisih kurs.

Setelah Presiden Joko Widodo memutus-kan reshuffle kabinet dan meluncurkan paket kebijakan ekonomi, kinerja emiten big cap pada paruh kedua tahun ini diproyeksi bakal melanjutkan pertumbuhan positif.

Direktur PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee menambahkan kinerja emiten big cap telali menunjukkan recovery setelah sempat tertekan pada tahun lalu. Meski pemulih-an tidak terjadi pada emiten-emiten tertentu, termasuk Bank Mandiri, ^ gj dia memperkirakan ke depan kinerja bakal memhaik.