Tetap Tumbuh Meski Tertekan

Media : BISNIS INDONESIA | Wartawan : Annisa Sulistyo Rlni & Surya Rianto | Senin, 01 Agustus 2016  | 13:05 WIB

JAKARTA — Sebagian besar bank penguasa industri sukses mencatatkan pertumbuhan laba bersih sepanjang semester 1/2016. Namun, beban pencadangan ditingkatkan mengantisipasi naiknya kredit bermasalah buruknya kualitas kredit memang mem-bebani kinerja bank sepanjang tahun ini.

Bank Permata mencatatkan kerugi-an uilai kredit yang dicatat sebagai pencadangan yang melesat hingga 282,3% dari Rp867,75 miliar pada Juni 2015 menjadi Rp3,32 triliun pada Juni tahun ini.

KUALITAS KREDIT

Kenaikan pencadangan itu akibat melemahnya kinerja sektor ekonomi dan buruknya kualitas kredit debitur persero-an terutama sektor industri pengolahan, transportasi, pergudangan, dan komuni-kasi serta perdagangan besar dan kccil.

Demikian pula dengan Bank Mandiri. Cadangan terhadap kerugian penurunan aset keuangan kredit pada semester 1/2016 mencapai Rp24,49 triliun, melonjak hingga 46,47% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rpl6,72 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan pihaknya mem-bentuk pencadangan yang tinggi untuk mengantisipasi naiknya NPL.
Dari 10 bank yang rata-rata mewakili sekitar 80% pencapaian laba industri perbankan nasional, sebanyak sembilan bank sudah merilis laporan keuangan medio Juni 2010. Satu lunk yang belum merilis laporan keuangan yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.. yang biasanya mencetak laba terbesar di antara bank-bank lain.

Data yang dihimpun Bisnis, dari sembilan bank yang merilis laporannya, hanya satu bank yakni PT Bank Permata Tbk. mencatat kemgian hingga Rp840 miliar, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk* mencatat laba Rp7,07 triliun, turun dibandingkan dengan periode yang sama 2015 senilai Rp 10,03 triliun.

Pada kuartal 11/2010 ada tujuh bank yang mencatat pertumbuhan laba ber--sih. Jumlah ini lebih baik dibandingkan dengan kuartal 1/2016 yang tercatat lima bank yang membukukan pertumbuhan laba. (Lihat ilustrasi)

Ekonom Universitas Gadjali Mada A.

Tbny Praaetiantono mengatakan faktor terbesar yang menyebabkan peningkat-an laba bersih bank-bank besar pada
paruh pertama 2016 adalah penurunan suku bunga deposito bank seiring dengan rendahnya inflasi.

“Ini memungkinkan bank-bank membu-kukan margin bunga bersih [net interest tfUugtn/NIM] yang lebih tinggi,” ujamya kepada Bisnis, Minggu (31/7).

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Tbk. Tigor M. Siahaan menyatakan kinerja per-seroan ditopang oleh naiknya pendapatan bunga bersih menjadi Rp5,81 triliun dan poningkatan pendapatan nonhunga menjadi Rpl,46 triliun.

Kedua sumber pemasukan tersebut ma-sing-masing tumbuh sebesar 4,8% dan 24,1% dari pencapaian periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, terkait pencadangan terhadap risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), Tigor menyatakan hal itu sudah mulai mpmhaik. “Binya pon-cadangan untuk kredit bermasalah secara bertahap membaik,” ungkapnya melalui keterangan resmi, Jumat (29/7).

Melemahnya perekonomian dan mem“Pencadangan kami naik tajam, tahun lalu Rpll triliun, tahun ini kami targetkan Rpl7 triliun. Kami memang agresif untuk recovery ini dan diperkirakan NPL masih tinggi sampai Desember,” katanya.

Rico Rizal Budidarmo, Direktur Keuangan BNI, menyebutkan tren NPL perseroan pada akhir semester 1/2016 memang naik menjadi 3% dibandingkan dengan Desember 2015 di level 2,7% yang disumbang oleh segmen menengah atau komeisial dan segmen kecil.

"Untuk segmen yang tertekan NPL, dari segi rasio kredit macet dan tingkat aksi liapus buku, segmen menengah dan kecil mcnempati dua posisi teratas terbanyak, sedangkan segmen konsumer dan korpo-rasi berada di dua terbawah,” jelasnya.

Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan (CKPN) industri perbankan nasional hingga Mei, naik. Nilainya sudah mencapai Rpl 36,42 triliun, lebih tinggi dari Rpl02,27 triliun pada Mei tahun lalu.

Dari nilai CKPN tersebut, pencadangan untuk kredit mencapai Rpl30,34 triliun. (Abdul Rahman/Stefanus Aritf Setiajl) 01