Risiko Kredit Macet Bisa Berianjut

Media : MEDIA INDONESIA | Wartawan : Fathia Nurul Haq |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Senin, 01 Agustus 2016  | 13:13 WIB

gresivitas bank dalam ekspansi kredit berbanding lurus cengan laju pertumbuhan kredit bermasalah. Pengelolaan ^JPL akan menjadi PR besar buat perbankan.

RASIO kredit bermasalah (nonper-forming loan/NPL) rata-rata indus-tri perbankan yang naik signifikan jnenjadi 3,1% selama semester I 2016 ditengarai bisa menjadi awal dari tren penLngkatan NPL selanjutnya. Kebutuhan bank yang tinggi untuk menyalurkan kredit dan rnendorong mereka kian agresif akan fcerimbas pada kenaikan NPL.

“BCA, misalnya, mereka memproyeksikan masih ada kenaikan NPL sampai 4%-4,2%. Ini javih lebih tinggi daripada NPL tahun-tahun sebelumnya,” tutur analis pasar modal >JH Korindo Securities Indonesia Reza Priambada saat ditemui di Bali, kemarin.

Menurut Reza, NPL laiknya konsekuensi
yang harus ditanggung perbankan jika mereka memutuskan agresif dalam menyalurkan kredit. Agresivitas tersebut muncul karena perbankan memiliki kebutuhan untuk menyalurkan likuiditas mereka. Kebutuhan itu bahkan diprediksi akan semakin tinggi di awal tahun depan, saat dana repatriasi pengampunan pajak diperkirakan mulai membanjiri likuiditas domestik.

“Kalau tahun depan perbankan makin agresif, saya kira NPL masih bisa meningkat lagi tahun depan. Tapi kita lihat bagaimana upaya perbankan memperbaiki NPL tersebut,” sambung Reza.

. Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memandang posisi kenaikan NPL perbankan di angka 3,1% belum mengkhawatirkan.
“Kita memahami bahwa perbankan cu-kup memperhatikan rasio NPL-nya yang meningkat ke 3,1%. Tapi itu kan gross (ko-tor), nef-nya tidak lebih dari 1,6%. Jadi, NPL meningkat, tapi kita tidak perlu khawatir,” kata dia, di Jakarta, Jumat 129/7).

Meski demikian, Agus tetap mengingat-kan perbankan, di partih kedua 2016, risiko kenaikan NPL bisa saja masih membayangi. Penyebabnya ialah kelesuan ekonomi global yang diperkirakan masih mengganjal ke-giatan bisms debitur korporasi dari bank.

Dari sis) sektor penyaluran kredit, Reza melihat intiustripertambangan masih menjadi momjok bagi bank kendati kondisinya saat ini berangsur pulih. Sebagai kompen-sasinya, tank mulai melirik segmen mene-ngah dai usaha mikro yang lebih resisten terhadaj krisis.

“Mikri bisa jadi pilihan, bank melihat profil na abah mikro lebih bisa di-manage, terlebih v ntuk beberapa bank. Mereka akan memanf atkan jaringan nasabah mikronya untuk penyaluran kreditnya,” terang Reza.
Stimulasi moneter

Sementara itu, Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldi mengatakan arus likuiditas masuk yang mulai membanjir saat ini tidak hanya menuntut bank lebih agresif dalam mengucurkan kredit, tetapi juga menstimulasi transmisi kebijakan moneter lebih cepat.

Apalagi, Leo menyebut bukan hanya dana hasil pengampunan yang mulai masuk, me-lainkan juga aliran dana dari sentimen pasar terhadap arah kebijakan negara maju dan tren suku bunga negatif yang membuat pasar negara berkembang semakin diminati.

Tekanan terhadap penurunan suku bunga, menurut Leo, sudah tampak pada_yield surat berharga negara (SBN) yangperlahan susut setelah sempat menembus 9%.

“Penerapan 7 days repo rate yang menggan-tikan BI rate juga disambut positif karena BI rate dianggap sudah melenceng dari fungsi utama,” tutur Leo, kemarin (Ant/E-1)

fathia@mediaindonesia.com