Pembangkit Kedua Proyek 35 Ribu MW Mulai Operasi

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : Rangga Prakoso | Senin, 01 Agustus 2016  | 13:19 WIB

JAKARTA - PT PLN (Persero) mulai mengoperasikan Mobile Power Plant (hAPP) Jeranjang 2x25 megawatt (MW) di Desa Taman Ayu, Kabupaten Lombok Barat. Pembangkit bergerak ini merupakan pembangkit kedua Program 35 Ribu MW yang sudah masuk tahap operasi.

Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara Machnizon Masri mengatakan, MPP Jeranjang 2x25 MW ber-hasil dioperasikan setelah di-lakukan uji coba tegangan untuk memastikan kehandalan mesik dan penyesuaian terhadap sis-tem yang telah ada. Pada tahap awal, pasokan sebesar 25 MW telah masuk sistem. Sementara sisa 25 MW akan masuk setelah dilakukan uji coba kehandalan mesin.

“Seluruh uji coba untuk mesin pertama berkapasitas 25 MW telah berhasil dilakukan, dan secara resmi masuk sistem ke-listrikan lombok,” kata dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (31/7).

Machnizon menuturkan, MPP Jeranjang ini menjadi salah satu program strategis PLN yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Lis-trik (RUPTL) tahun 2015-2024. Hal ini menjadi bukti komitmen PLN terhadap pembangunan infrastruktur kelistrikan di NTB untuk mewujudkan rasio elek-
trifikasi hingga 100%. Dengan Masuknya MPP 50 MW, maka diperkirakan rasio elektrifikasi di Lombok akan meningkat dari 73.83% pada April 2016 menjadi 78,16% pada Desember 2016.

“Dengan peningkatan ini di-harapkan bisa menjadi katalisa-tor perekonomian masyarakat,” ujar Machnizon. Selain itu, peng-operasian MPP berbahan bakar gas ini berpotensi dapat meng-hemat biaya pengeluaran untuk bah an bakar minyak hingga Rp 26 miliar per tahun.

Sistem kelistrikan di Wilayah NTB terdiri dari 3 siatem yang terpisah, yaitu Sistem Lombok, Sistem Sumbawa, dan Sistem Bima. Sistem Lombok merupakan sistem terbesar dengan beban puncak mencapai kurang lebih 212 MW dan daya mampu pasok sekitar 219 MW per Juni

2016.    Dengan tambahan 50 MW dari MPP Lombok, maka akan menambah keandalan daya pasok sistem Lombok.

Sebelumnya, dari target pembangunan 291 pembangkit lis-trik dalam Program 35 Ribu
MW, PLN telah mengoperasikan PLTG Gorontalo. Pembangkit listrik berkapasitas 100 MW itu telah mulai beroperasi pada awal tahun ini. Pembangunan pembangkit listrik ini relatif cukup cepat lantaran baru dimulai pada September 2015.

MPP Jeranjang akan menambah daftar proyek tahap opc-rasi yang sebelumnya tercatat sebesar 170 MW atau baru 1% dari total seluruh proyek. Sementara masih menurut data yang sama, proyek pembangkit dalam Program 35 Ribu MW yang sudah konstruksi tercatat sebesar 8.240 MW atau 22% dan yang sudah meneken perjanjian jual beli listrik namun belum konstruksi sebesar 9.790 MW (27%).

Selanjutnya, dari Program 35 Ribu MW yang masih dalam proses pengadaan tercatat sebesar 10.405 MW atau 28%. Terakhir, proyek pembangkit listrik yang masih pada tahap perencanaan sebesar 8.080 MW atau 22%.

Amankan 35 Ribu MW

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ar-candra Tahar menyatakan bakal mengamankan Program 35 Ribu MW yang merupakan amanat dari Presiden Joko Widodo. “Saya sebagai pembantu Presiden akan mengamankan Program 35 Ribu MW. Kendala yang muncul dengan kementerian lain akan dicarikan solusi dalam waktu singkat,” kata dia.

Arcandra menyadari masalah terkait sulitnya sinergi atau adanya hambatan antar ke-
menterian tidak bisa dibiarkan. Pihaknya akan mencari so-Iusi terbaik agar kendala yang ada dapat dibenahi. Karenanya terkait kendala yang dihadapi oleh investor, pihaknya baru dapat membantu sebatas yang menjadi kewenangan Kementerian ESDM.

“Apabila kewenangan Kementerian ESDM tidak cukup menyelesnikan masalah seperti Blok Masela dan 35 Ribu MW, maka saya akan diskusi dengan Presiden untuk mencari solusi agar program berjalan dengan baik,” tutur Arcandra.

Secara terpisah, Koalisi Masyarakat Sipil Publish What You Pay (PWYP) Indonesial mencatat terdapat sejumlah pekerjaan rumah di empat sek-tor utama kementerian ESDM, yang perlu dijadikan fokus pri-oritas oleh Menteri Arcandra Tahar. Salah satunya termasuk upaya pemenuhan kebutuhan listrik nasional

Untuk itu, Koordinator Nasional PWYP Indonesia Maryati Abdullah menuturkan, pemerintah perlu melakukan penga-wasan terhadap pencapaian target pengembangan Program 35 Ribu MW. Selain itu, pemerintah harus memastikan pasokan listrik yang efisien dan tepat sasaran, termasuk memastikan aspek sosial dan lingkungan hidup dari proyek-proyek kelistrikan.

“Selain itu juga pengembangan infrastruktur harus terintegrasi dan efektif untuk mengatasi kesenjangan akses energi listrik pada berbagai wilayah di Indonesia,” kata Maryati.