Pajak Nonmigas Tak Optimal Pertumbuhan Tahun Ini Diperkirakan di Bawah Pertumbuhan Alami

Media : KOMPAS | Wartawan : | Senin, 19 September 2016  | 13:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Penerimaan pajak non-migas hingga akhir tahun ini diproyeksikan Rp 1.105 triliun atau tumbuh 9,3 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan demikian, realisasi penerimaan pajak nonmigas tahun ini di bawah pertumbuhan alami yang sekitar 9,5 persen.

Realisasi pajak nonmigas 2015 sebesar Rp 1.011 triliun. Dengan pertumbuhan ekonomi ditambah inflasi tahun ini diperkirakan 9,5 persen, realisasi pajak nonmigas tahun ini setidaknyabisa Rp 1.107 triliun.

Dengan proyeksi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tersebut, asumsi penerimaan pajak hingga akhir tahun 2016 akan meleset Rp 218 triliun di bawah target. Penerimaan pajak yang di bawah target ini pemah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

’’Realisasinya di bawah pertumbuhan alami. Artinya, usaha dari Direktorat Jenderal Pajak
belum optimal.-Hal ini sedikit banyak dipengaruhi moratorium pemeriksaan, kebijakan yang di-ambil guna mendukung program pengampunan pajak,” kata Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo di Jakarta, Minggu (18/9).

Menurut Prastowo, masih ada kemungkinan proyeksi penerimaan pajaknonmigas sebesar Rp 1.105 triliun itu tidak tercapai. Adapun uang tebusan program pengampunan pajak diperkirakan menyumbang sekitar Rp 50 triliun-Rp 60 triliun. Target uang tebusan dari pengampunan pajak tahun ini Rp 165 triliun,
"Artinya, penerimaan pajak ta-hun ini benar-benar di bawah pertumbuhan alami, Tetapi, yang perlu diwaspadai adalah tahun 2017. Sebab, tahun depan, sum-bangan uang tebusan dari program pengampunan pajak bisa di-katakan tinggal kecilkatanya.

Gali potensi

Prastowo menekankan, peng-galian potensi pajak dari harta tambahan hasil program pengampunan pajak menjadi kunci. Potensi lain adalah melalui peng-galian dari warga negara Indonesia yang tidak ikut program pengampunan pajak Berdasarkan data DJP per Minggu (18/9) pukul 19.30, tebusan dari program pengampunan pajak yang diterima mencapai Rp 29,1 triliun. Jumlah ini berdasarkan surat setoran pajak (SSP) yang diterima. Data DJP juga menunjukkan, ada 81.553 surat pemyataan harta.

Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Perpajakan DJP
Yon Arsal, pekan lalu, menya-takan, target penerimaan pajak di luar bea dan cukai tetap dipatok Rp 1.355 triliun. Hal ini tertuang dalam APBN Perubahan 2016. DJP tetap berusaha mencapai target tersebut.

Meski demikian, dengan proyeksi realisasi penerimaan pajak meleset Rp 218 triliun di bawah target, realisasi penerimaan nonmigas sampai dengan akhir tahun diperkirakan Rp 1.105 triliun. Jika asumsi itu terbukti, penca-paian pajak nonmigas hanya sekitar 84 persen dari target.

’Tang jelas, target pajak kita tetap Rp 1.355 triliun. Hanya saja, dengan perkiraan target meleset Rp 218 triliun, usaha kami mencapai pajak, kalaupun di bawah target, penerimaan pajak meleset maksimal Rp 218 triliun. Ini adalah standar minimal yang harus dicapai DJP,” kata Yon.

Berdasarkan data DJP, penerimaan pajak migas dan nonmigas sampai dengan 31 Agustus 2016 mencapai Rp 656,11 triliun.
Pencapaian ini meningkat 4 persen dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu.

Penerimaan PPh migas hanya Rp 21,55 triliun atau merosot 42 persen dibandingkan«dengan tahun lalu. Sementara penerimaan pajak nonmigas pada periode yang sama sebesar Rp 634,55 triliun atau tumbuh 7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Penyumbang terbesar adalah PPh nonmigas senilai Rp 374 triliun atau tumbuh 9 persen dalam setahun.

Berikutnya adalah pajak per-tambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang realisasinya Rp 240,17 triliun. Dengan realisasi ini, merosot 3 persen dalam setahun. Adapun Pajak Bumi dan Bangunan menyumbang Rp 15,29 triliun atau tumbuh L800 persen, sedangkan pajak lainnya menyumbang Rp 5 triliun atau tumbuh 39 persen. (LAS)