Lonjakan Dana Repatriasi akan Dorong IHSG

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : Farid Firdaus dan Rausyan Fikry |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Senin, 19 September 2016  | 13:26 WIB

JAKARTA-Dana repatriasi yang mulai masuk pasar modal diperkirakan melonjak menjelang akhir periode I tax amnesty September 2016. Dana yang dibawa pulang WNI telah meningkat lebih dari tiga kali lipatsepanjang bulan ini, dari Rp 9,44 • triliun akhir Agustus lalu menjadi Rp 29,1 triliun hingga Minggu (18/9) malam. Derasnya aliran dana segar tersebut dan menipisnya kemungkinan The Fed menaikkan Fed Funds rate (FFR) berpo-tensi mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) melaju ke level 5.400 dalam dua pekan mendatang.

Seiring deras masuknya dana re-patriasi tax amnesty dan meredanya kekhawatiran penaikan FFR oleh bank sentral Amerika Serikat, IHSG pada perdagangan Kamis (15/9) di
Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai rebound setelah tertekan selama empat hari perdagangan sebelumnya. Meski asing masih mencatatkan net sell (penjualan bersih), aksi borong
saham oleh investor domestik mampu melambungkan IHSG 119,78 poin (2,33%) ke level 5.265,82. Dito-pang maraknya pembelian saham oleh investor lokal, penguatan in-dekspun berlanjutpada Jumat (16/9) kelevel 5267,77. Dalam duahari perdagangan tercatat transaksi saham menembus Rp 9,97 triliun dan Rp 8,37 triliun, di atas rata-rata transaksi harian sekitar Rp 6,39 triliun. Se-mentara itu, meski investor asing mencatatkan net selling sejak Rabu (7/9), akumulasi net buy (pembelian bersih) dari awaljanuari lalu masih Rp 34,68 triliun.
Pekan ini, indeks harga saham gabungan diperkirakan cenderung menguat. Ekonom Universitas Indonesia dan analis PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, jika The Fed tidak menaikkan FFR, IHSG bahkan ber-potensi kembali menuju level 5.400 pada akhir September ini. “Mayor-itas ekspektasi pasar berharap tidak ada perubahan FFR. Kalaupun ada keputusan The Fed yang di luar ekspektasi, indeks akan terkoreksi wajar, tapi setelah itu kembali net-ral,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (17/9).

Setelah FFR tidak dinaikkan oleh bank sentral AS September ini, lan-jut dia, sentimen berikutnya yang ditunggu pasar adalah kemungkinan pelonggaran suku bunga acuan BI ?4ay reverse repo rate yang sekarang 5^5%. Sebab, saat ini, kebijakan mon-eter adalah aksi yang bisa diandalkan untuk mendorong pertumbuhan eko-nonii, setelah pemerintah memutuskan untuk memangkas anggaran belanja “Dari sentimen ekonomi makro di dalam negeri, sejumlah indikator lain juga masih sesuai ekspektasi. Inflasi masih terkendali dan rupiah cenderung stabil di kisaran Rp 13.100-13.200 per dolar AS. Ke depan posisinya tetap seperti itu,” tutur Lana.

Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, selama pekan ini, IHSG akan bergerak dalam kisaran support 5.200-5.128 dan res-isten 5.305-5.361. Menjelang akhir September nanti, diperkirakan terjadi lonjakan realisasi tax amnesty, yang bakal disambut positif oleh pasar. Apabila BI 7-day reverse repo rate yang menjadi suku bunga acuan barn Bank Indonesia bisa diturunkan lagi, maka respons pasar saham bisa lebihbagus.

Masuk DIRE Pada kesempatan terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menjelaskan sebelumnya, dana repatriasi hasil program amnesti pajak sudah mulai masuk ke pasar modal. “Sejumlah dana repatriasi masuk ke instrumen reksa dana penyer-taan terbatas (RDPT). Ada juga yang sedang proses masuk ke instrumen dana investasi real estate (DIRE). Kami lihat, hingga akhir September dan Oktober mungkin ada yang masuk lagi,” paparnya.

Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia Syafruddin mengungkapkan, pihaknya belum dapat melihat dengan past! dana repatriasi yang sudah masuk ke pasar saham. Hal tersebut terjadi karena penerapan rekening khusus bagi investor repatriasi belum efektifditerapkan.

Menurut dia, saat ini KSEI tengah menyiapkan surat edaran (SE) pem-bukaan dan penggunaan rekening khusus tersebut. KSEI berharap proses finalisasi SE itu tuntas dalam dua pekan mendatang.

“Tetapi dana repatriasi bisa jadi sudah masuk pasar saham, tetapi masih melalui rekening reguler,” ujar Syafruddin kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (18/9).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, apabila peraturan rekening khusus telah diterapkan, KSEI bakal memiliki data investor peserta amnesti pajak. Dalam proses pembuatan SE rekening khusus, KSEI melibatkan perusahaan efek yang menjadi gateway dana repatriasi.

Selain rekening khusus untukinves-
tor saham, KSEI akan segeramembual SE untuk rekening khusus investor reksa dana dalam program S-Invest Menurut Syafruddin, peraturan terkait monitoring dana hasil tax amnesty juga sedang dipersiapkan sampai saat ini.

Direktur Panin Asset Management (PAM) Rudiyanto mengatakan, investor peserta tax amnesty seharusnya mulai masuk ke pasar saham pada akhir September hingga pertengahan tahun depan. Dia memandang kondisi investor peserta tax amnesty sekarang masih fokus untuk membayar dana tebusan asetnya kepada pemerintah.

“Mereka juga melihat timing untuk masuk, menunggu koreksi IHSG,” ungkapnya.

Menurut dia, terdapat beberapa karakter investor yang berniat me-nyimpan dana hasil repatriasinya di pasar modal. Investor jangka panjang bisa saja masuk ke pasar saham dalam. waktu dekat mi. Tetapi ada juga investor yang menunggu timing khusus, meskipun investor jangka panjang juga sebenarnya ikut menunggu timing untuk masuk.

Sebenarnya, tutur Rudiyanto, level IHSG di bawah 5.300 merupakan timing yang cukup tepat bagi investor untuk masuk. “IHSG di bawah 5.300 itu strong buy ” ujar Rudiyanto. Dia mengaku sudah ada sejumlah investor peserta tax amnesty yang memfinal-isasi komitmennya untuk menyimpan dananya di pasar modal melalui PAM.

Sedangkan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyara-kat Ditjen Pajak He&tu Yoga Saksama mengaku belum mengetahuinya. Ditjen Pajak menunggu laporan dari bank persepsi yang juga bertindak sebagai gateway pengampunan pajak. Berdasarkan Peraturan Diijen (Per-diijen) Pajak Nomor 12/PJ/2016,£flte-way wajib menyampaikan laporan ke diijen pajak mengenai pembukaan dan pengalihan dana ke rekening khusus tax amnesty.

Berdasarkan data DJF; hingga pukul

23.00    WIB Minggu, dana tebusan murni berdasarkan surat pernyataan harta (SPH) mencapaiRp 16,76 triliun. Sedangkan dana tebusan berdasarkan
surat setor pajak (SSP) mencapai Rp

29,1    triliun. Angka tersebut meliputi pembayaran surat setor pajak (SSP) senilai Rp 25,8 triliun, pembayaran bukti pemeriksanaan (bukper) Rp255 miliar, dan pembayaran tunggakan beijumlah Rp 3,06 triliun.

Asing akan Masuk Lagi Sementara itu, Direktur Pengawa-san Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hasyarbaini menilai, aksi lepas saham oleh investor asing dalam dua pekan terakhir hanya bersifat semen* tara. Saat ini, yang menjadi isu utama di pasar saham domestik maupun global adalah rencana kenaikan suku bunga acuan bank Amerika Serikat atau FFR. “Ya biasa saja, kan tidak selamanya keluar. Ada saatnya asing masuk, ada saat investor asing keluar, tergantung sentimennya,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, sentimen positif dari data neraca perdagangan Indonesia yang surplus serta terus meningkatnya dana repatriasi amnesti pajak bisa menjaga stabilitas rupiah, yang selanjutnya turut berdampak positif terhadap pergerakan IHSG BEI. Badan Pusat Statistik merilis, neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus sebesar US$ 293,6 juta pada Agustus 2016. Secara kumulatif, neraca perdagangan periode Januari-Agustus 2016 surplus sebesar US$ 4,38 miliar.

Dengan mengalirnya dana repatriasi ke sektor iiifrastruktur, analis Binaartha Parama Halimas Tansil mengatakan, pihaknya merekomen-dasikan sejumlah saham konstruksi untuk dilirik investor dalam periode satu hingga tiga bulan ke depan. Untuk saham Waskita Karya (WSKI), para investor bisa masuk di level Rp 2.480-2.500 per unit, PTPP Rp 3.900, dan Adhi Karya (ADHI) Rp 2.480-2.500.

“Selain itu, saham properti juga ada peluang rebound. Kami mereko-mendasikan untuk masuk ke PWON (Pakuwon Jati) saat harga di kisaran Rp 590-600 dan saham LPKR (Lippo
Karawaci) pada area Rp 1.020-1.030,” tutur dia.

Rupiah Menguat

Selain harga-harga saham naik, akhir pekan lalu, rupiah ditutup menguat 0,15% ke level Rp 13.155 per dolar AS, setelah diperdagangkan pada kisaran Rp 13.091-13.163 per dolar AS. Pen-guatan ini terjadi seiring sebagian besar kurs mata uang negara-negara AsiaTenggara menguat. Indeks dolar AS sempatmelemah setelah sebagian besar data ekonomi AS yang dirilis di bawah ekspektasi.

“Komentar yang berlawanan dari sejumlah pejabat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tentang. jadwal peningkatan suku bunga AS menciptakan ketidakpastian yang membuat dolar AS rentan melemah. Optimisme terhadap langkah (penai-kan FFR) bank sentral ini semakin goyah, karena data domestik terkini AS cenderung kurang menggembi-rakan,” kata research analyst Forextime Lukman Otunuga.

Karena itu, lanjut dia, ekspektasi suku bunga AS akan dinaikkan lagi pada rapat September ini semakin menipis. The Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 bps menjadi 0,25-0,50% Desember tahun lalu. Ke depan, The Fed akan mengkaji data ekonomi domestiknya lebih lanjut sebelum me-mutuskan peningkatan suku bunga AS pada Desember 2016.

“Dari dalam negeri, saat ini pasar tengah mengamati keefektifan imple-mentasi \]\J Amnesti Pajak. Di sisi lain, ekspektasi peningkatan suku bunga Fed tetap menjadi topik utama yang dapat meningkatkan volatilitas rupiah/* imbuh dia.

Sementara itu, Riset Morgan Stanley memaparkan, secara makro global, dampak kenaikan FFR sebenarnya masih dapat ‘dikelola’. Namun, hal penting yang perlu dicermati adalah pernyataan Bank Sentral Eropa yang cenderung dovish (tidak agresif) terhadap kebijakan suku bunganya. Selain itu, perlambatan ekonomi diTiongkok diperkirakan berlanjut pada semester II    tahun ini. (ant/sumber lain)