Ekspansi & Investasi Sepi

Media : BISNIS INDONESIA | Wartawan : Annisa Sulistyo Rini & Demis Rizky Gosta | Senin, 19 September 2016  | 13:30 WIB

JAKARTA — Pengusaha menyebut permintaan kredit cenderung flat karena sepinya ekspansi dan investasi menjelang akhir tahun. Penyaluran kredit tercatat terus melambat dalam tiga bulan terakhir.

Perlambatan permintaan kredit disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Riyanto. Erwin menuturkan pada bulan ke-8, pertumbuhan kredit perbankan hanya di kisaran 6%. Padahal, per-tumbuhan kredit sempat menyentuh 8,89% pada Juni 2016, lalu bulan ber-ikutnya melambat menjadi 7,74%.

“Agustus masih turun, sekitar 6 koma berapa gitu. Memang ada naik di Juni, turun lagi di Juli dan Agustus,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/9).

Pada Agustus 2015 kredit yang disalurkan perbankan kepada pihak ketiga senilai Rp3.881,29 triliun. Apabila mengacu pada pernyataan Erwin, dengan kenaikan 6%, maka total nilai kredit perbankan pada Agustus tahun ini Rp4.114,16 triliun. Sementara itu, jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu (year to date) senilai Rp4.057,90 triliun, kredit hanya tumbuh sekitar 1,38%.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P. Roeslani mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit sebagai sesuatu yang wajar pada tahun ini di tengah laju ekonomi yang memang melambat.

Menurutnya, turunnya penyaluran kredit dalam bentuk valas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan. Belakangan ini, bank cenderung mengarahkan agar debitur menarik pinjaman dalam bentuk rupiah.

“Industri yang penerimaannya dalam bentuk dolar memang prefer dolar, tetapi buat pengusaha sebetul-nya sama saja,” ujarnya saat dihu-bungi Minggu (18/9).

BERHATI-HATI

Dia memperkirakan permintaan ekspor yang belum naik signifikan membuat pebisnis cenderung ber-hati-hati menarik pinjaman baru, apalagi dalam bentuk valas. “Pertumbuhan kredit masih akan flat dalam beberapa bulan ke depan karena ekspansi usaha atau investasi baru biasa-nya sepi menjelang akhir tahun.” Erwin menyatakan penurunan tidak hanya terjadi pada penyaluran kredit, tetapi juga dari sisi penghim-punan dana pihak ketiga (DPK).

Terkait dengan perlambatan penyaluran pembiayaan oleh bank, dia melanjutkan, apabila dilihat lebih dalam pertumbuhan kredit dalam bentuk rupiah masih naik positif sebesar 9,8% secara tahunan. Di sisi lain permintaan kredit valas mencatatkan pertumbuhan yang negatif.

Hal ini, kata Erwin, mengonfirmasi bahwa banyak perusahaan berorien-tasi ekspor menurunkan utang dalam negeri maupun utang luar negerinya yang berbentuk valas.

“Tapi, ada positifnya juga perusahaan menurunkan eksposure utang-nya, ini tandanya mereka lebih dewa-sa. Lebih baik dilunasin dulu kalau tidak diperlukan supaya bebannya tidak semakin besar,” kata Erwin.

Melambatnya pertumbuhan kredit pada Agustus tahun ini dito^ang oleh permintaan pinjaman berbasis valuta asing (valas) yangturun. Hingga Juni 2016, permintaan kredit valas tercatat Rp593,62 triliun, turun dibandingkan dengan posisi Juni 2015 sebesar Rp643,56 triliun. (lihat ilustrasi)

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman menuturkan biasanya permintaan kredit berbanding lurus dengan. pertumbuhan investasi karena keba-nyakan kredit dibutuhkan ketika perusahaan mau ekspansi.

“Saya lihat tidak terlalu berbeda dengan tahun lalu. Mungkin di sek-tor lain yang melambat. Di sektor kami agak sedikit melambat tapi investasi masih tinggi dan banyak ekspansi,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (18/9).

Menurutnya, perlambatan kredit terjadi lebih karena siklus yang diaki-batkan adanya penurunan permintaan setelah Lebaran.

Khusus untuk sektor makanan dan minuman, dia memperkirakan in-vestasinya bakal naik 20%—30% sampai kuartal HI/2016. Kondisi itu tentu berpotensi meningkatkan permintaan kredit perbankan.

Berbeda dengan Adhi, Ketua Aso-siasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan melambathya permintaan barang daji rendahnya ekspor menjadi penyebab dari lam-batnya pertumbuhan kredit.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai pertumbuhan kredit yang lambat hingga kuartal 111/2016 diproyeksikan membaik dan berada di kisaran 7%-9% sampai dengan akhir tahun ini. Angka itu sejalan dengan perkiraan yang dipatok BI.

Menurutnya, -relaksasi kebijakan makroprudensial terkait pelonggaran loan to value pada kredit pemilik-an rumah, mulai mendorong kredit perbankan dari sektor perumahan.

Lebih lanjut, dia menuturkan ekspektasi pelonggaran kebijakan mone-ter BI pada semester kedua melalui penurunan suku bunga acuan atau penurunan giro wajib minimum di-harapkan dapat meningkatkan likui-ditas perbankan untuk menghadapi peningkatan permintaan kredit.

Eric Sugandi, Direktur Riset Kenta Institute, memproyeksi pertumbuhan kredit sepanjang tahun monyet api ini akan ada di kisaran 8% hingga 10%, dengan kecenderungan mende-kati 8% secara tahunan.

“Bulan-bulan berikutnya [setelah Agustus], pertumbuhan kredit masih fluktuatif, bergantung kondisi demand "(Nindya Am®