Janji-janji Reklamasi

Media : BISNIS INDONESIA | Wartawan : Feni Freycinetia & Puput Ady Sukarno |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Senin, 19 September 2016  | 13:31 WIB

Lelaki itu sesekali menunjuk ke gundukan pasir yang ada di laut Jakarta. Sejatinya, itu bukanlah semata gundukan pasir. Itulah Pulau G, nama pulau buatan PT Muara Wisesa Samudra, anak usaha PT Agung Podomoro Land, Tbk. yang belakangan paling banyak disebut-sebut oleh media.

Semula, Jaya, nelayan Muara Angke yang mewakili generasi ketiga dari keluarga yang telah tinggal turun-temurun di kampung itu, enteng-enteng saja berbicara kepada Bisnis, pekan lalu. Rencana pemerintah melanjutkan proyek reklamasi di Teluk Jakarta menjadi topik utama pembicaraan kami.

Raut kegelisahan mulai terlihat di wajah lelaki berusia 50 tahun itu, ketika bincang-bincang mulai menyentuh tentang kemungkinan dia bersama keluarganya harus berpindah tempat tinggal dan ke mana harus melaut.

“Ya kalau terpaksa [proyek reklamasi terus dilanjutkan], apa boleh buat,” ujarnya sambil mengecat pe-rahu. Empat orang anaknya sedang bermain air dan memancing ikan.

Sebagai rakyat kecil, dia merasa tak bisa berbuat banyak apabila proyek reklamasi tetap dilanjutkan oleh pemerintah. Jaya mengaku belum memiliki bayangan jika rencana itu terealisasi.

Pertanyaan yang menghantui Jaya dan nelayan lainnya adalah di mana mereka akan mencarvikan untuk menafkahi keluarga. Nasib mereka berbeda dengan nelayan kapal besar penangkap ikan yang bisa beroperasi di tengah lautan.

Pada saat bersamaan wilayah pe-sisir atau pantai ibu kota juga tengah menghadapi ancaman penurunan muka tanah (lands subsidence) yang diperberat dengan bahaya naiknya permukaan air laut rata-rata (mean sea level) sebagai dampak dari fenomena pemanasan global.

Penurunan muka tanah dan naiknya permukaan air laut, sesuai dengan hasil simulasi Tim Geodesi dan Geologi ITB serta Indonesia Water Institute pada 2012 lalu, apabila tidak ada upaya signifikan dalam mengatasi dan mengantisipasinya, diperkirakan menjelang tahun 2050 sekitar 95% wilayah Jakarta Utara berada di bawah permukaan air laut secara permanen.

Imbas dari buruknya pengelolaan lingkungan DKI Jakarta, berdampak juga kepada semakin turunnya kualitas lingkungan di Teluk Jakarta pada empat dekade terakhir. Bukan hanya bermasalah pada pelayanan air bersih atau air minum perpipaan, tetapi juga pada belum adanya sistem

pengelolaan limbah cair perkotaan.

Hal ini mengakibatkan sebagian besar limbah perkotaan yang tidak diolah akan berakhir pada Tteluk Jakarta sehingga timbulnya kehancuran ekologi masif pada ekosistem Tteluk Jakarta. Buruknya kualitas air'Tteluk Jakarta yang sudah lama kasat mata setidaknya dapat dicermati dari kejadian ikan mati masal yang semakin sering dan menurun drastisnya keanekaragaman hayati yang bem,ilai ekonomi dan sehat dari lingkungan Tteluk Jakarta.

Penanganan isu perkotaan sudah semakin mendesak untuk segera diselesaikan. Tidak berlebilian jika pilihan untuk mengatasi masalah penurunan daya tampung dan daya dukung ruang (lahan) dan lingkungan, adalah dengan optimalisasi lahan yang ada dan menambah ruang baru dengan tidak mengorbankan daerah resapan {green area) yang sudah semakin sempit di bagian selatan ibu kota.

Pilihan yang tersisa adalah mengembangkan kawasan pantai utara

(pantura) Jakarta melalui reklamasi

dan sekaligus restorasi lingkungan Tteluk Jakarta seperti yang jamak dilakukan di kota-kota besar pinggir pantai di Jepang, China, Korea Selatan, Singapura dan Amerika Serikat.

Reklamasi yang dimaksud adalah

dengan mengembangkan secara

terencana dan terpadu suatu kawasan daratan baru di pesisir ataupun di lepas pantai. Untuk kondisi Teluk Jakarta, reklamasi ini dilakukan

dengan tujuan merestorasi kawasan yang rusak atau belum bcrfungsi optimal menjadi kawasan yang

fuiigsional baik dari segi ekonomi ataupun tujuan strategis lainnya
secara beriringan dengan pemulihan keberlanjutan daya dukung lingkungannya.

Di samping harus memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku, reklamasi membutuhkan peren-canaan yang baik dan biaya yang relatif besar, dan harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sehingga bisa meminimalisasi segala penyimpangan pelaksanaan serta dampak lingkungan dan sosial yang harus dikelola dengan baik.

JAKARTA TENGGELAM

Ketika isu terhadap reklamasi Teluk Jakarta marak, Kantor Kementerian Koordinasi bidang Kemaritiman segera membentuk Komite Bersama untuk melakukan kajian terhadap rencana 17 pulau reklamasi yang dimaksud.

Presiden Jokp Widodo dengan antisipatif meminta Bappenas untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap aspek lingkungan, sosial (nelayan) dan hokum (regulasi) sekaligus dengan meng-integrasikannya dengan rencana pembangunan tanggul laut lepas pantai. Pembangunan itu masuk dalam rencana induk National Capital Integrated Coastal Development/

NCICD yang sesungguhnya dimaksudkan untuk melindungi ibu kota dari ancaman tengelam dalam 50-100 tahun kedepan.

Ketika muka tanah di Ibu kota terus turun dengan laju rata-rata sekitar 10—12 cm per tahun karena beberapa faktor (di antaranya adalah karena pengambilan berlebihan air tanah) sementara muka air laut juga naik dengan laju rata-rata 5—•7 per tahun, tidak berlebihan jika dalam 30-50 tahun ke depan plasa Monas yang berada pada elevasi 2,9 m di atas permukaan air laut (dpi) akan tertutup air laut secara permanen.

Tidak itu saja, 13 sungai yang saat ini bermuara di Teluk Jakarta sudah tidak mampu lagi mengalirkan air limpasan ke Tteluk Jakarta, sehingga banjir akan semakin parah dan ke-rugian ekonomi akan .semakin masif.

Membenahi daerah hulu dan menata daratan ibu kota adalah upaya yang tidak boleh diabaikan tetapi mencegah dan mengamankan tenggelamnya sebagian wilayah daratan ibu kota harus dicarikan jalan keluamya ketimbang berpolemik panjang tanpa solusi.

Pendekatan engineering atau rekayasa teknik yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan level muka air di Tfeluk Jakarta sampai pada level dimana muara 13 sungai

berada di bawah muka air di hilir sungai/kali tersebut. Rekayasa ini hanya bisa dilakukan dengan membangun tanggul lepas Pantai
yang dilengkapi dengan sistem pemompaan untuk dapat mengatur level muka air dalam tanggul, terutama ketika masuk musim hujan.

Rencana untuk meningkatkan daya tampung dan daya dukung ruang DKI Jakarta dalam bentuk reklamasi merupakan pilihan yang tepat ketika kita tidak mungkin memperluas ke selatan, timur dan barat. Agar optimal dan memberikan manfaat berlipat, reklamasi ini harus diintegrasikan dengan rencana Pengembangan Tferpadu Kawasan Pesisir Ibu kota (NCICD).

Perbedaan pendapat dan pandangan perlu disikapi dengan bijak dalam ran-cang bangun reklamasi dan NCICD. Ekosistem yang terancam hilang akibat reklamasi dan NCICD harus digantikan dengan ekosistem yang lebih baik lagi. Nelayan yang selama ini hanya ber-tumpu pada hasil tangkapan, harus mendapat prioritas perbaikan ekonomi dengan adanya reklamasi Tfeluk Jakarta dan pembangunan tanggul laut lepas pantai.

Reklamasi juga mampu merevitalisasi wilayah utara Jakarta. Selain itu, padatnya penduduk di wilayah Jakarta Utara dapat diredistribusi dari wilayah resapan air ke wilayah dengan tingkat kependudukan yang relatif lebih rendah. Salah satu contoh yang dapat ditiru adalah Teluk Tt>kyo, Osaka, Shanghai, Dubai, Singapura, dan lainnya yang telah menggunakan reklamasi sebagai solusi pengembangan ruang tetapi tetap memperhatikan fungsi dan rekayasa lingkungan secara berkelanjutan.

Pulau-pulau baru hasil reklamasi

akan dirancang untuk menjadi bagian dari rencana pengelolaan lingkungan terpadu dan berkelanjutan. Kawasan teluk Jakarta akan menjadi cerminan dari bagaimana pemerintah menangani permasalahan lingkungan perkotaan pinggir pantai.

Apabila direncanakan dan dilaksanakan dengan baik, reklamasi dapat menghasilkan ruang binaan baru dan menciptakan kawasan water front city yang menyajikan aspek kelautan yang ramah lingkungan dengan memprioritaskan pemberdayaan masyarakat pesisir yang membutuhkan dukungan dan

pembinaan (nelayan).

Saat ini dibutuhkan pengembangan sekaligus optimalisasi pemanfaatan ruang pada wilayah DKI Jakarta, terutama wilayah utara, yaitu Tteluk Jakarta. Lahan yang nantinya akan terbentuk berupa pulau-pulau yang direncanakan mencapai sekitar 5.100 ha yang akan menjadi simbol pembangunan kota metropolitan

berbasiskan daya dukung dan daya tampung lingkungan, khususnya badan air yang merupakan amenitis _ kota maju dan modem.