Utang Luar Negeri Diprediksi Naik

Media : BISNIS INDONESIA | Wartawan : (Veronika Yasinta) | Senin, 19 September 2016  | 13:32 WIB

JAKARTA — Utang luar negeri diprediksi memiliki tren yang naik kendati kecenderungan swasta untuk menarik utang masih minim.

Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Akbar Suwardi mengatakan secara umum utang luar negeri masih didominasi oleh utang publik seiring dengan aksi ekspansif fiskal oleh pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. Namun, swasta cendrung masih menahan untuk menarik utang karena permintaan masih lemah.

Seperti diketahui, Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri pada kuartal 11/2016 mencapai US$323,8 miliar atau naik 2,2% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Utang pemerintah tercatat senilai US$158,7 miliar di kuartal II/2016, atau naik 14% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Utang swasta tercatat sebesar US$165,1 miliar di kuartal 11/2016. Posisi utang swasta masih didominasi pinjaman jangka panjang

yang turun 3,1%, berbanding ter-balik dengan kuartal sebelumnya yang justru mengalami kenaikan 2,1%.

Utang luar negeri jangka pendek sektor swasta mengalami penurunan lebih kecil yakni sebiesar 3,2% di kuartal 11/2016, sementara kuartal sebelumnya turun 9%

RASIO

Secara keseluruhan, rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal 11/2016 tercatat sebesar 36,8%, se-dikit meningkat dari kuartal sebelumnya sebesar 36,6%.

“Sehingga porsi utang Indonesia akan mulai bergeser. Utang publik, market s/iare-nya akan meningkat sedangkan swasta akan menu-run,” katanya, di Jakarta, Jumat (16/9).

Di sisi lain, Akbar mengingatkan perlu diwaspadainya perekonomian akibat nilai ekspor-impor yang terus melemah. Menurutnya, hal itu akan berdampak pada berkurangnya sumber pertumbuhan dari ekspor-
impor dan kemampuan bayar utang luar negeri.

Seperti diketahui, penurunan nilai ekspor Agustus 2016 sebesar 0,74% dibandingkan dengan Agustus 2015 masih sejalan dengan lemahnya harga komoditas dan permjntaan dari mitra dagang utama.

“Utang memang masih aman. Namun, tetap harus diwaspadai seiring dengan tren penurunan nilai ekspor yang masih berlanjut hingga Agustus ini,” ucapnya.

Ekonom Kenta Institute Eric Alexander, Sugandi meyakini masih ada kemungkinan utang luar negeri swasta mengalami kenaikan di sisa tahun ini. Namun, hal itu bisa terjadi jika terdapat peningkatan aktivitas ekonomi yang membuat perusahaan swasta mulai mening-katan permintaan offshore valas dan naiknya pinjaman ke anak perusahaan.

“Utang luar negeri swasta bisa bertambah bila pelaku usaha swasta meningkatkan pinjaman valas

of/s/iorc* mereka, misalnya untuk pembelian barang modal atau per-luas skala usaha,” ujarnya.

Sebelumnya, Hendy Sulistiowati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI, mengatakan penurunan utang swasta jangka panjang di-sebabkan oleh pelemahan ekspor. Namun, dia meyakini utang swasta akan tumbuh di sisa tahun ini mengingat industri manufaktur dan pengolahan diperkirakan akan melakukan ekspansi.

“J)ari kuartal 1/2016, utang swasta itu turun terus. Swasta lebih banyak niembayar daripada me-minjam. Ada pinjaman afiliasi 33 %, perannya karena PMA [Penanaman Modal Asing] melihat ekspor masih lemah,” ucapnya.

Badan Pusat Statistik melaporkan secara kumulatif nilai ekspor Ja-nuari 201 <5-Agustus 2016 tercatat US$91,73 miliar atau menurun 10,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai ekspor keseluruhan tahun lalu mencapai US$150,25 miliar.