Pembangkit Listrik Tenaga Angin Segera Dibangun

Media : KOMPAS | Wartawan : |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_mediapm.php

Line Number: 6

Selasa, 20 September 2016  | 13:41 WIB

KOPENHAGEN,* KOMPAS -Perusahaan pembangkit listrik tenaga angin asal Denmark, Vestas, bersama investor di bidang energi asal Singapura, Equis, segera membangun pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 60 megawatt di Jenoponto, Sulawesi Selatan. Pembangunan pembangkit itu segera dilakukan setelah PT PLN (Persero) dan Equis menandatangani perjan-jian jual beli tenaga listrik

Penandatanganan perjanjian jual beli listrik dilakukan oleh Director at Equis Funds Group Ltd Tim Russell serta Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN Machnizon Masri dengan disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemamo serta Menteri Energi, Utilitas, dan Iklim Denmark Lars Christian Lilleholt, di Kopenhagen, Denmark, Senin (19/9), seperti di-laporkan wartawan Kompas, Ferry Santoso.

Tim Russell mengungkapkan, nilai investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga angin mencapai 130 juta dollar AS sampai 140 juta dollar AS dengan sistem keija sama build, operate, and transfer (BOT) selama 30 tahun.

Setelah membuat desain re-kayasa detail dan berbagai per-
izinan, lanjut Russell, pembangkit listrik tenaga angin dapat di-selesaikan akhir 2017. Equis dan Vestas juga melakukan kajian pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di beberapa daerah lain di Indonesia.

Energi terbarukan

Direktur Perencanaan Kor-porat PT PLN Nicke Widyawati mengungkapkan, dalam perjanjian jual beli listrik pada pembangunan pembangkit listrik tenaga angin 60 MW di Jene-ponto, PLN membeli listrik dari. Equis sebesar 10,89 sen dollar per kWh.

Rini Soemarno mengungkapkan, pemerintahan Presiden Jo-ko Widodo menekankan pembangunan pembangkit listrik yang berasal dari energi baru dan terbarukan. Pemerintah memiliki target pemakaian energi baru dan terbarukan mencapai 23 per-sen pada 2025.

Selain itu, lanjut Rini, dalam pembangunan pembangkit listrik, pemerintah, terutama Kementerian BUMN, selalu menekankan pentingnya penggunaan produk dalam negeri. Ia men-contohkan, tiang-tiang dari kin-cir angin untuk pembangkit harus bisa diproduksi di dalam negeri, terutama oleh perusahaan milik negara