PDIP Usung Ahok-Djarot

Media : KOMPAS | Wartawan : Imam Suhartadi | Rabu, 21 September 2016  | 12:25 WIB

JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat DPP PDI Perjuangan mengumumkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat sebagai bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta pada pilkada serentak 2017.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan , Hasto Kristy an to mengumumkan, nama pasangan tersebut di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa malam (20/9).

“Basuki itu kan artinya cahaya terang. Kita minta Pak Ahok kembali kepada khitahnya sesuai namanya, yang berarti cahaya terang. Sebagai calon wakil gubernur adalah Djarot Saiful Hidayat. Pak Djarot ini dikenal dengan kepeloporan meperbaiki rumah masyarakat mi skin saat menjadi Walikota di Blitar termasuk melaksanakan reformasi anggaran/’ kata Hasto.

Pada kesempatan tersebut, DPP PDI Perjuangan juga mengumumkan pasangan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur dari lima provin-si lainnya.

Mereka adalah, bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur Provinsi Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Lacatoni. Bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur Provinsi Aceh, Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah.

Bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur Provinsi Gorontalo, Hana Hasan-ah Pad el Muhammad dan Tony.

Bakal calon gubernur dan bakal calon wakil guhernur Provinsi Sulawesi Barat, Ali Baal dan Enny Anggraini Anwar. Kemudian, bakal calon gubernur Provinsi Banten, Rano Karno.

Hasto belum mengumumkan siapa bakal calon wakil gubernur Banten yang mendampingi Rano Karno.

Menurut Hasto, pada Selasa malam ini DPP PDIP Perjuangan mengumumkan semua pasangan calon kepala daerah yang akan berkompetisi di lOl daerah.

Selain enam pasangan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur, menurut dia, 95 pasangan bakal calon bu-pati dan wakilnya, maupun bakal calon walikota dan wakil nya diumumkan melalui website PDI Perjuangan.

Menurut Hasto, PDI Perjuangan mempersiapkan pasangan calon kepala daerah secara sungguh-sungguh, antara lain dengan melakukan sekolah bagi para calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah.

“Pasangan kepala daerah merupakan alat kekuatan politik untuk menyerap aspirasi wong cilik,” katanya.

Hasto menambahkan, PDI Perjuangan mengusung pasangan calon kepala daerah, di seluruh daerah yang menye- lenggarakan pilkada serentak yakni di lOl daerah.

"Ini makna ke seren takan pilkada, sebagai wujud demokrasi,” katanya.

Bendahara Umum PDI Perjuangan Oily Dondokambe mengatakan, Ahok dipilih berdasarkan pertimbangan, ki-nerja pemerintah an nya yang baik serta tingkat elektabilitas yang cukup signifikan. Sebel-umnya, Partai Nasdem, Partai ^ Hanura, dan Partai Golkar telaFT mendeklarasikan dukungannya pada Ahok.

Ketua Bappilu PDIF* DKI Jakarta, Gembong Warsono,

menegaskan, apapun yang diputuskan DPP PDIP akan di-laksanakan dan takkan ditawar-tawar pihaknya.

“Itu tak bisa ditawar-tawar. Apapun putusan DPP PDIP, seluruh kader harus melak-sanakannya. Sebab apapun yang diputuskan, kami yakin itu yang terbaik,” kata Gembong.

Tak Ada Lawan

Peluang calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk menang dalam Pilkada DKI sangat besar, karena nyaris tak ada figur yang mumpuni yang bisa dijadikan lawan terber-at dalam pertarungan merehut kursi DKI 1.

“Lawan terberat Ahok saat ini bukan lagi figur, namun lebih pada banyaknya para elite politik yang selama ini menjadi ‘musuh politik, Ahok, yang tak rela Ahok kembali memimpin Jakarta,” tegas pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Teguh Yuwono kepada SP, Selasa (20/9).

PDI-P mengusung Abok-Djar-ot dalam Pilkada DKI. Sebab, bagi PDI-P tak ada figur lain yang saat ini mampu menand-ingi Ahok yang telanjur disukai publik Jakarta.

“PDI-P tentu akan berpikir ulang untuk mengusung Risma. Karena Risma juga telanjur disukai rakyat Surabaya. Lagi pula,

Risma tentu dipersiapkan sejak dini untuk merebut kursi Jawa Timur 1. Kalau Ahok-Djarot menang di DKI, besok Risma menang di Jatim, tentu kemenangan itu modal yang sangat besar bagi PDIP untuk merebut kemenangSri di provinsi lain dan tampil kembali sebagai the ruling party di negeri ini,” tegasnya.

Teguh menilai, peluang Ahok untuk menang juga sangat besar, karena sebagai petahana, publik sudah lebih dulu mengenal dibanding calon lain.

“Calon petahana itu punya peluang yang besar untuk menang. Dia kerja biasa saja, mudah menang, apalagi jika dia bekerja keras seperti telah ditunjukkan Ahok, tentu peluangnya sangat

besar,” tegasnya.

Selain itu, Ahok telanjur menjadi media darling. Ahok seperti dulu Jokowi, kata Teguh, sangat disukai dan dicari media. Bukan Ahok yang mencari atau men-gun dang media, namun media lah yang justru mencari dan memberitakan sepak ter j ang Ahok.

“Jadi, media telanjur suka dengan sosok AJnok, b u kan pada marah-marahnya, tapi pada kinerja dan bukti-bukti yang sudah berhasil ditunjukkan Ahok selama memimpin Jakarta,” tambahnya.

Menurut Teguh, cara Ahok yang tegas dan keras dalam memimpin, justru cocok dengan kondisi Jakarta yang sangat majemuk dan memiliki persoalan yang sangat kompleks.

“Justru gaya seperti Ahok ini yang sangat tepat memimpin Jakarta, bukan lagi figur yang tampak santun dan bertutur kata halus, namun ternyata tak bisa kerja dan korup.” tandasnya. (b1/sp/ant)