Analisa Hasil Survey Partai Politik oleh Sejumlah Lembaga Survey Menjelang Pemilu 2014

Post Date :

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read.php

Line Number: 6

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read.php

Line Number: 6

Senin, 13 Mei 2013   | 17:20:28

Fakta:

1. Dari sejumlah survey yang dilakukan lembaga survey independen antara kurun waktu tahun 2012 hingga 2013 sementara ini memperlihatkan bahwa partai politik yang dipersepsikan publik sebagai partai berhaluan nasionalis mendapat dukungan yang lebih besar dibandingkan partai yang berhaluan Islam.

 2. Partai politik yang dipersepsikan publik sebagai partai yang berhaluan nasionalis adalah Partai Demokrat, PDIP, Gerindra, Hanura, Golkar, PKPI serta Nasdem. Sedangkan partai politik berhaluan Islam; PKS, PAN, PKB, PPP dan PBB

 3. Survey tersebut juga menempatkan partai politik berhaluan nasionalis dipandang popular, akseptable dan mempunyai elektabilitas di masyarakat.

 4. Hasil survey secara umum memperlihatkan sebagian besar kecendrungan masyarakat (responden) untuk menjatuhkan pilihannya saat Pemilu 2014 mendatang kepada Partai Golkar, Partai Demokrat, PDIP, Partai Gerindra dan Partai Hanura

 5. Di antara lembaga survey dalam survey-nya itu juga memperlihatkan partai politik yang menjadi peserta Pemilu 2004 dan 2009 kecendrungan menjadi pilihan masyarakat mayoritas dibanding partai politik baru, semisal Nasdem dan PKPI.

 6.  Dari hasil survey itu di antaranya menunjukkan adanya perbedaaan maupun prosentase penilaian yang naik turun oleh responden, terutama terhadap partai politik yang dipersepsikan publik sebagai partai berhaluan nasionalis. Misalnya disebutkan oleh lembaga survey Political Weather Station, bahwa Partai Golkar menempati urutan teratas, sementara Lembaga Survey Nasional (LSN) menempatkan PDIP di urutan nomor satu dari segi popularitas, elektabilitas maupun akseptabilitas.

 7. Hasil survey memperlihatkan peluang partai politik baru yang lolos verifikasi untuk Pemilu 2014 mendatang, seperti Partai PKPI akan sulit menembus persaingan dengan partai politik lama. Sementara Partai Nasdem masih diperhitungkan untuk bersaing dengan parpol lainnya mengingat dukungan media massa yang dimiliki tokoh tersebut secara massif.

 8. Hasil survey juga memperlihatkan publik cendrung menjatuhkan pilihannya kepada partai politik yang dipandang memiliki figure atau tokoh yang dianggap terkenal atau popular

 9. Sejumlah lembaga survey yang melakukan survey calon presiden dan partai politik yang potensial dan memiliki elektabilitas, popularitas dan akseptabilitas di masyarakat, antara lain; Political Weather Station, Indonesia Network Elections Survey (INES), Lembaga Survei Nasional (LSN), Lingkaran Survei Indonesia, Publica Research & Consulting, National Leadership Center (NLC) dan Taylor Nelson Sofres (TNC), Rakyat Reasearch and Consulting (RRC), Lembaga Survei Jakarta (LSJ), Lembaga Klimatologi Politik (LKP), Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS),  Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

                                                                                                  

Analisa:

Berdasarkan atas hasil survey yang dilakukan lembaga survey independen tersebut dapat dianalisa sebagai berikut:

 1.       Menjelang Pemilu Legislatif dan Pilpres 2014 mendatang mengindikasikan bahwa masyarakat masih terpolarisasi pandangan politiknya terhadap ideologi politik dari partai politik yang menjadi kontestan dalam Pemilu 2014 mendatang. Polarisasi pandangan politik masyarakat itu kemungkinan dipengaruhi oleh sejumlah aspek, di antaranya oleh lembaga survey yang mengelompokkan questioner yang mengarah pada pengelompokkan ideology partai politik.

 

2.       Munculnya dukungan masyarakat yang lebih besar kepada partai politik berhaluan nasionalis, terutama PG, PDIP dan PD dibandingkan Islam kemungkinan dipengaruhi oleh eksistensi partai tersebut yang telah lama dikenal. Hal ini menguatkan dugaan bahwa partai yang berhaluan Islam kemungkinan akan sulit menembus lima besar perolehan suara dalam Pileg 2014 mendatang. Bahkan dapat diprediksi parpol PBB  kemungkinan tipis peluangnya untuk lolos parliament threeshold (3,5 persen) ketimbang PKS, PKB, PPP dan PAN.

 3.      Dukungan masyarakat terhadap partai politik berhaluan nasionalis yang dipandang popular, akseptable dan memiliki elektabilitas kemungkinan dipengaruhi oleh loyalitas konstituen atau massa partai tersebut yang juga berdampak pada dukungan massa mengambang. Sebaliknya eksistensi partai berhaluan Islam juga didukung oleh loyalis partai dan simpatisannya namun kemungkinan besar tidak memiliki pengaruh terhadap dukungan massa mengambang.

 

4.     Sebagian besar kecendrungan masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya dalam Pemilu 2014 mendatang pada PD, PDIP dan PG menunjukkan kuatnya pengaruh partai tersebut di masyarakat. Sementara dukungan terhadap Partai Hanura dan Gerindra dalam survey tersebut mengindikasikan bahwa kinerja partai tersebut selama ini dianggap bersih dan menjadi partai alternative bagi pemilih kelak. Namun demikian kecendrungan masyarakat untuk mendukung partai-partai tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh figure atau tokoh central partai  yang selama ini dikenal luas masyarakat.

 5.       Kecendrungan masyarakat yang kemungkinan besar memilih partai lama ketimbang partai baru karena responden selama ini telah mengenal kontestan Pemilu tersebut dan melakukan pilihan sebelumnya di tahun 2004 dan 2009. Sementara untuk partai baru, responden maupun masyarakat kemungkinan masih menunggu langkah lebih lanjut kinerja partai tersebut dalam mensosialisaikan eksistensinya jelang Pemilu 2014.

 6.   Naik turunnya elektabilitas partai politik melalui lembaga survey menunjukkan bahwa partai politik kemungkinan dipandang masyarakat belum mewakili kepentingan rakyat banyak. Di samping kemungkinan adanya sikap apatisme masyarakat terhadap kinerja partai politik selama ini. Apalagi hal ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh beragam kasus korupsi yang menyita perhatian masyarakat.

 Bahkan munculnya partai baru seperti PKPI dan PBB pada Pemilu 2014 diprediksi tidak membawa perubahan signifikan sebagaimana yang dikehendaki masyarakat. Kecuali itu kemungkinan besar partai Nasdem akan memiliki peluang dan diprediksi akan dapat bersaing dengan partai lama sebab dari sejumlah alasan, di antaranya partai Nasdem mendapat dukungan media massa yang massif dalam mensosialisasikan eksistensi partainya.

  7.      Kecendrungan masyarakat untuk memilih partai politik yang memiliki figure tertentu yang dikenal luas selama ini berpotensi akan memenangkan partai tersebut dalam Pemilu 2014 mendatang. Tokoh atau figure yang selama ini dikenal masyarakat, seperti Megawati (PDIP), Gerindra (Prabowo Subianto), Golkar (Abu Rizal Bakri), dan PAN (Hatta Rajasa) kemungkinan masih menjadi faktor yang menentukan dalam Pemilu Legislatif 2014 mendatang. Namun demikian bukan tidak mungkin kehadiran tokoh atau figure alternatif dari partai politik lain akan membuka peluang bagi partai itu untuk mengungguli perolehan suara partai tersebut di atas.

Kesimpulan:

 1.   Polarisasi partai politik yang dipersepsikan publik ke dalam partai politik yang berhaluan Nasionalis dan Islam dapat dikatakan tidak mencerminkan pandangan politik masyarakat secara keseluruhan. Polarisasi demikian kemungkinan sengaja dibentuk oleh sejumlah lembaga survey dengan tujuan untuk memudahkan  pengelompokkan masyarakat dalam upaya menjaring pendapatnya. Namun di luar itu dalam faktanya terdapat sebagian besar masyarakat yang masih memandang partai politik secara ideologis, baik Nasionalis, Islam maupun Nasionalis-Relijius. 

 2.  Eksistensi partai politik menjelang Pemilu 2014 mendatang amat dipengaruhi oleh figure atau tokoh partai politik yang selama ini telah dikenal luas masyarakat ketimbang program yang ditawarkannya. Hal ini akhirnya berimplikasi pada ketertarikan masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya pada partai tersebut.

 Sebaliknya partai politik baru, seperti PKPI, PBB dan Nasdem kemungkinan akan bersaing ketat untuk mampu lolos parliamentary threeshold dengan figur atau tokoh yang masing-masing dimilikinya. Kecendrungan demikian kian menjelaskan bahwa tradisi politik (Pemilu khususnya) di Indonesia masih didominasi oleh persepsi masyarakat atas ketokohan figure tertentu di partai.

3. Pemilu 2014 mendatang terutama untuk Pemilu Pileg kemungkinan partai lama akan mendominasi perolehan suara untuk duduk di parlemen. Bahkan dapat diprediksi partai politik yang memperoleh lima besar dalam perolehan suara Pileg 2014 amat ditentukan oleh tokoh atau figure partai politik itu yang selama ini dikenal luas masyarakat, seperti PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura dan PD.

Namun demikian tidak menutup kemungkinan adanya tokoh atau figure alternative yang muncul kemudian dari partai lain, seperti PAN, PPP, PKS, PKB akan mengubah konstelasi posisi lima besar tersebut. Di samping tentunya upaya partai politik lain, semisal PKPI, PBB dan Nasdem yang berjuang untuk menarik perhatian masyarakat dalam memilih parpol tersebut kelak. Perjuangan partai PKPI, PBB, dan Nasdem amat mutlak dilakukan sebab realitasnya partai-partai ini belum memiliki akar politik yang kuat di masyarakat.*en