Siapa Main Mata: TK atau AS?

Post Date :

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_analysis.php

Line Number: 5

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_analysis.php

Line Number: 5

Rabu, 11 Juli 2012   | 00:00:00

INILAH.COM, Jakarta - Ada hal baru dan menarik dalam acara puncak peringatan hari kemerdekaan Amerika Serikat 4 Juli di Jakarta. Yaitu kehadiran Ketua MPR-RI, Taufiq Kiemas (TK) di acara yang diselenggarakan di kediaman resmi Dubes AS untuk Indonesia, Scott Marcier.

Selain hadir, Ketua MPR juga didaulat memberi sambutan. Otomatis, sambutan TK mewakili lembaga tertinggi negara, MPR-RI. Jika mengikuti tata cara protokol, sambutan Ketua MPR-RI dalam forum resmi seperti itu, harus selalu berstatus resmi. Itu sebabnya sambutan selalu dibuat dalam bentuk tertulis. Sehingga otentik dan menjadi dokumen resmi kedua negara.

Tetapi yang terjadi, TK menyampaikan sambutannya tanpa teks. Maka menjadi sebuah spekulasi boleh jadi TK diundang dalam kapasitas sebagai pimpinan lembaga tinggi negara tetapi bobot penghormatan yang diberikan kepadanya lebih kepada sosok pribadi atau ketokohannya. Itu sebabnya sambutannya bersifat tidak resmi.

Tak bisa dipungkiri ketokohan TK sebagai politisi senior di mata pemerintah AS, sudah cukup kuat. Ketokohannya semakin menonjol karena di era kepimpinnya-lah, aura lembaga MPR-RI seperti bersinar kembali. TK juga dijuluki sebagai tokoh pluralis Indonesia, sebuah label yang diminati oleh Amerika Serikat.

Itu pula yang mungkin membuat pemerintah AS pernah menjadwalkan kunjungan kehormatan Presiden Barack Obama kepada TK selaku Ketua MPR pada rencana kunjungan di 2010. Hanya saja audiensi itu batal, sebab Presiden Obama baru tahun berikutnya berkunjung. Itupun setelah mengalami dua kali penjadwalan ulang.

Dalam isu-isu sentral di dunia politik, TK juga sering tampil sebagai sosok yang suka membuat pernyataan politik yang kontroversil, tetapi sering kali diakui kemudian sebagai hal yang valid dan relevan

Salah satu pernyataannya yang cukup kontroversil, ketika di 2004, TK memberi label minor kepada SBY. Saat itu SBY ia sebut seorang jenderal yang berperilaku seperti anak kecil. Sementara pada saat yang bersamaan SBY mulai diisukan mau maju sebagai calon presiden, bersaing dengan Mega isteri TK.

Banyak yang mencela TK dengan pernyataan vulgar tersebut. Tapi beberapa tahun kemudian, masyarakat mulai ada yang membenarkan penilaian itu. Dimulai ketika SBY yang sudah menjadi Presiden, sering mengeluh dan curhat kepada bangsa Indonesia.

Misalnya soal gajinya yang tidak pernah naik atau beban kerjanya sebagai presiden yang kurang lebih sama beratnya dengan tukang cuci piring dan meja makan yang kotor. Dan yang terbaru adalah soal pencalonan presiden dalam Pilpres 2014.

TK termasuk yang tidak mendukung pencapresan Megawati Soekarnoputri, yang nota bene isterinya serta sudah pernah menjadi Presiden ke-RI (2001 -2004). TK beralasan, isterinya sudah dua kali kalah dalam Pilpres dan ia tidak ingin kalau 2014 kembali mengalami nasib yang sama. TK tidak ingin isterinya dipermalukan sampai tiga kali.

Sebagai jalan keluarnya, TK menganjurkan agar capres yang maju dalam Pilpres 2014, harus yang lebih muda. Di acara peringatan hari kemerdekaan AS itu, Megawati juga ikut hadir bersama TK.

Dalam protokoler AS, seorang yang sudah pernah menjadi Presiden akan tetap dihormati sebagaimana layaknya seorang Presiden. Itu sebabnya tidak ada sebutan mantan atau bekas Presiden. Bagi AS, Megawati masih tetap layak dipanggil sebagai Presiden. Sama halnya dengan Bill Clinton, George Bush, Jimmy Carter dll. Itu sebabnya dalam acara hari kemerdekaan AS itu, pemerintah atau Kedubes AS di Jakarta, dari segi protokoler juga memberi penghormatan secara terukur kepada Megawati.

Yang menjadi bahan spekulasi, apakah cerita kehadiran TK dan Mega di rumah Dubes AS itu - hanya berhenti di situ, secara kebetulan atau akan ada kelanjutannya? Pasalnya pada kesempatan itu, pengganti Dubes, sekaligus juga diumumkan oleh Scott Marcier.

Pengumuman dan introduksi seperti ini juga sesuatu yang baru dan menarik. Lazimnya, seorang Dubes baru, biasanya akan diperkenalkan sesudah ada persetujuan dari Senat. Sehingga yang menjadi pertanyaan mungkinkah perkenalan itu dimaksudkan sebagai pesan dan titipan. Yaitu Dubes AS yang baru akan melakukan kontak yang lebih intensif dengan kedua pemimpin itu bagi keperluan pereratan hubungan bilateral AS-Indonesia.

Sebab sebagai negara adidaya, AS sangat berkepentingan atas segala sesuatu yang berkembang di Indonesia terutama yang menyangkut perubahan kepemimpinan. Dan kepentingan itu harus mereka bicarakan dengan para pemimpin di Indonesia. Namun dalam menegaskan kepentingan itu, tidak semuanya dilakukan secara terbuka dan langsung. Melalui bahasa isyarat, bahasa tubuh atau pesan-pesan secara implisit.

Dalam diplomasi dan politik AS, segala sesuatu dimungkinkan dan memungkinkan. Yang pasti negara adidaya seperti AS menganut prinsip, setiap langkah yang dilakukan oleh para pejabatnya, harus terukur dan diukur dengan kepentingan negaranya.

Pada 2004, kepentingan AS adalah mendukung SBY yang alumnus sekolah perwira militer Fort Benings, AS. Partai Republik yang berkuasa di AS membutuhkan teman di Indonesia yang berkarakter seperti SBY.

Untuk itu, tiga tahun sebelum Pilpres, tepatnya beberapa hari sebelum Pilpres 2004 putaran pertama digelar 5 Juli 2004, Menlu Colin Powel secara khusus terbang ke Jakarta. Bekas Panglima Gabungan Angkatan Bersenjata AS itu seharusnya menghadiri pertemuan Menlu ASEAN dan negara mitra dialog.

Tapi yang dilakukannya hanya bertemu dengan sesama alumninya, SBY. Colin bahkan tidak beraudiensi kepada Presiden Megawati bersama Menlu-Menlu mitra dialog lainnya. Janggal, tetapi itulah cara AS mengirim pesan diplomasi dan sinyal politik kepada negara sahabat.

Itulah pula penegasan atas apa yang sudah disampaikan oleh Ralph Boyce, calon Dubes AS untuk Indonesia, ketika ia bertemu dengan TK dan Mega pada 2001 di Washington. Tiga tahun sebelum Pilpres, melalui Ralph Boyce diplomat yang akan memimpin Kedubes AS di Jakarta, merasa perlu memberi penegasan, Gedung Putih tidak akan mendukung Megawati di Pilpres 2004.

Pilpres 2014 tinggal dua tahun lagi. Hingga saat ini yang berkuasa di AS, Partai Demokrat. Sejauh ini belum terbaca siapa capres atau partai politik yang bakal didukung oleh Amerika Serikat. Namun diakui atau tidak, negara adidaya itu, pasti sudah mulai melirik atau bahkan main mata dengan capres yang dia anggap memenuhi kriteria dan kepentingannya.

Ingat pernyataan Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD) Letjen (Purn) Soerjadi di 2011 yang menyitir pertemuannya dengan seorang diplomat AS. Dimana katanya negara sahabat itu menginginkan adanya duet sipil-militer di Pilpres 2014.

Dalam hal ini kehadiran TK dan Mega di Kedubes AS tidak bisa dibaca sebagai dalam rangka perayaan hari kemerdekaan semata. Sepertinya, acara itu sudah masuk dalam agenda dimana AS mulai melirik dan main mata dengan capres atau mereka yang menentukan siapa yang cocok menjadi capres.

Yang pasti ketika TK memberi sambutan, isinya banyak memuji AS sekaligus menyampaikan harapannya dari hubungan bilateral kedua negara. Secara singkat, TK sudah membuka diri, telah menawarkan sebuah hubungan yang baik dan hal ini bisa juga dibaca, TK sendiri pun sudah mulai main mata. Soal siapa yang akan didukung TK di Pilpres 2014, begitu juga AS itu merupakan ceritera tersendiri lagi. [mdr]