Hakim Sarpin, Ketika Putusannya di Perkarakan KY

Post Date :

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_analysis.php

Line Number: 5

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_analysis.php

Line Number: 5

Senin, 02 Maret 2015   | 16:27:30

Hakim Sarpin Rizaldi bak punya kepribadian ganda setiap pekan menyentuh Jumat. Sekitar tengah hari, ia menjadi imam jumatan di musala Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, sorenya, Sarpin berubah jadi pentolan band rock.

Sarpin memang mengakrabi gitar dan musik rock sejak muda. Dia penggemar band musik cadas asal Inggris, Deep Purple, dengan Soldier of Fortune sebagai lagu favoritnya. Tak mengherankan jika, ketika dipindah dari Pengadilan Negeri Binjai ke PN Jakarta Selatan, Sarpin langsung didapuk menjadi vokalis sekaligus gitaris. Setiap Jumat sore, Sarpin pasti berada di ruang latihan, yang tempatnya tidak jauh dari musala di bagian belakang kompleks pengadilan itu. “Karena saya kan hobi musik  saeutik-saeutik (sedikit-sedikit),” kata Sarpin kepada majalah detik saat menyambangi kantornya pada Rabu, 25 Februari 2015. Wajah "ganda" Sarpin yang religius tapi rocker ini sudah tidak asing lagi di mata para kawan karibnya. “Memang dari dulu dia ini termasuk golongan ‘celana gantung’,” kata Kolonel Ahmad Dendi Syaifullah soal penampilan religius teman seangkatannya di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, itu. Meski begitu, Kolonel Ahmad, yang berdinas di Badan Pembinaan Hukum Direktorat Hukum TNI Angkatan Darat, menceritakan Sarpin adalah gitaris andalan

band fakultas. “Fakultas kami termasuk top grup musiknya, tanding ke mana-mana juga,” ujarnya.

 

Selain bermain alat musik dan bernyanyi, adik Sarpin, Alfikri Mukhlis, mengatakan kakaknya itu juga gemar bermain sepak bola. Bahkan Sarpin terlebih dulu menjajal karier di lapangan hijau jauh sebelum jadi pengadil di meja hijau. Lulus SMA pada 1981 di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sarpin ogah berkuliah dan memilih merantau ke Jakarta. Menumpang di rumah tantenya di Jakarta, Sarpin bergabung ke Persatuan Sepak Bola (PS) Gumarang, yang berisi orang-orang Minangkabau di Ibu Kota.

“Karena saya mau berkarier di sepak bola, saya pindah ke PS Hercules,” kata Sarpin. Persatuan Sepak Bola Hercules adalah klub Divisi I di kompetisi internal klub Persija Jakarta. PS Hercules bermarkas di Stadion Menteng, yang kini berubah jadi Taman Menteng. Teman sepermainan yang ikut Sarpin merantau ke Jakarta, Syafrial Tanjung, bercerita kehidupan mereka di Jakarta benar-benar memprihatinkan. Naik angkutan umum pun terpaksa permisi menumpang tanpa bayar kepada sopir dan kernet. “Bukan tak mau bayar, tapi duit enggak ada,” kata Syafrial.

Tapi mereka pantang pulang. “Namanya laki-laki Minang, harus merasakan dulu hidup di rantau,” tuturnya.

Syafrial sebenarnya heran terhadap pilihan hidup kawannya itu, karena Sarpin adalah anak ketiga dari lima bersaudara pasangan orang tua yang berprofesi pegawai negeri dan guru.

“Kehidupan dia sebenarnya berkecukupan,” ujarnya.

Perangai itulah yang, menurut Syafrial, kerap disalahartikan orang yang tidak begitu mengakrabinya sebagai kesombongan. Tak mengherankan jika Sarpin dijuluki Si Buyuang Ongeh alias si pemuda sombong yang suka sok. Bagi Sarpin, panggilan itu muncul karena banyak yang iri terhadap dia. Apalagi, kata dia, gaya bicaranya juga kerap meledak-ledak. “Saya emang jago semua, makanya dibilang ongeh,” ujarnya.

Setahun menggauli si kulit bundar di Jakarta, Sarpin mulai dilirik klub profesional Persatuan  Sepak Bola Kebayoran dan Sekitarnya alias Perkesa 78, yang belum lama pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur. Kebetulan, kata Sarpin, PS Hercules dan Perkesa 78 sama-sama dipegang tokoh sepak bola Indonesia, Nabon Noor.

Namun langkah itu terhenti karena Sarpin dilarang oleh pamannya. Mamak, begitu Sarpin memanggilnya, memerintahkan Sarpin pulang dan berkuliah. Penyuka rendang dan kerupuk ini menurut dan ikut ujian masuk Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang.Lolos seleksi di dua kampus itu, Sarpin memilih Fakultas Hukum Universitas Andalas. Meraih gelar sarjana hukum pada Desember 1986, Sarpin ditawari jadi dosen tapi menolak.

“Saya kan mau jadi hakim,” ujarnya. Karier Sarpin jadi pengadil dimulai dengan jadi calon hakim di PN Bekasi pada 1988. Dia baru berhasil jadi hakim pada 1992 di PN Painan, Padang. Dari Painan, Sarpin digeser ke Lhokseumawe  pada 1997. Sepuluh tahun di Aceh itu dirasa Sarpin sebagai episode paling berisiko sepanjang mengenakan toga hitam-merah. “Tak ada kenangan, yang ada hanya risiko. Paling berat ya di Aceh itu,” kata Sarpin.

Kantor PN Lhokseumawe kala itu dibom ketika mengadili Panglima Gerakan Aceh Mer

deka Ishak Daud dalam kasus pembunuhan dua personel TNI. “Termasuk ruangan saya itu dibom. Bukan dibakar. Dibom!” kata Sarpin.

Sarpin, yang jadi anggota majelis hakim sidang itu, pun langsung mengungsikan istrinya, Rusi Yuliani, serta kedua anaknya, Vini Gracenov Rusady dan Vidi Caesario Rusady.

Sidang Ishak Daud juga terpaksa dipindah ke PN Sabang. Pengalaman buruk di Aceh, menurut Sarpin, membuatnya jadi hakim yang tidak takut menghadapi tekanan. “Makanya jangan gertak saya! Saya tidak takut,” kata Sarpin, tegas.

Dari Aceh, Sarpin pindah ke Riau. Di sini ia baru mulai kebagian jabatan dengan jadi Wakil Ketua PN Bangkinang dan naik jadi ketua pada Juli 2003. Jabatan ini membawa ia kembali ke Ibu Kota dengan menjadi hakim PN Jakarta Timur mulai 1 April 2005.

Saat di Jakarta inilah Sarpin pernah memegang sidang kasus pembunuhan artis Alda Risma pada 2009. Majelis hakim tempat Sarpin jadi anggotanya menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada terdakwa Ferry Surya Perkasa.

Ia juga menjadi ketua majelis hakim sidang korupsi PT Asabri. Sarpin memvonis Direktur Utama Asabri Mayor Jenderal (Purnawirawan) Subarda Midjaja bersalah dalam amblasnya duit prajurit sebesar Rp 410 miliar di perusahaan asuransi pelat merah itu.

Subarda dihukum 5 tahun penjara. Subarda juga diperintahkan mengganti kerugian negara sebesar Rp 33,68 miliar.

Banyak mengadili kasus korupsi, Sarpin terpikir jadi hakim pengadilan tindak pidana  korupsi. Lulus tes awal, Sarpin mengikuti pendidikan hakim tindak pidana korupsi, yang diadakan Mahkamah Agung di Megamendung, Bogor.

Pertengahan 2014, Sarpin kembali ke Jakarta. Menurut Sarpin, rata-rata hakim di Jakarta itu senior dan pernah jadi ketua pengadilan negeri. “Golongan saya IV-D, setingkat komjen kalau di polisi,” ujarnya

Mengantongi sertifikat pengadil kasus rasuah, Sarpin mendapat tugas tambahan dari

PN Jakarta Selatan. Ia diperbantukan sebagai hakim tindak pidana korupsi di PN Jakarta Pusat. Namun, setelah memegang sidang praperadilan status tersangka korupsi Komisaris Jenderal Budi Gunawan, Sarpin ragu meneruskan tugas barunya itu. “Tapi, dengan keadaan seperti ini, saya harus mengundurkan diri saja dari hakim tipikor itu,” ujarnya. “Karena orang sudah salah, seolah-olah saya membela koruptor.”

Sidang praperadilan Budi Gunawan bukan hanya jadi sorotan publik, tapi juga keluarga

besar Sarpin di kampung halamannya, Nagari Kepala Hilalang, Padang Pariaman. Bahkan mereka menggelar nonton bareng.

“Kaget juga kan karena putusan ini kan ditunggu oleh Bapak Presiden,” kata Alfikri

Mukhlis. “Di situ kami merasa bangga.” Alfikri, yang merupakan Ketua DPC NasDem

Padang Pariaman, mengatakan mereka menonton karena selama ini mereka tak pernah tahu kasus-kasus yang dipegang Sarpin dan seperti apa pria bergelar datuk itu memimpin sidang. Sepanjang kariernya sebagai hakim, Sarpin pelit bicara soal kasus yang dipegangnya.

Yang Alfikri tahu, Sarpin selalu salat tahajud sebelum menyusun vonis. “Dia orang yang taat beragama,” katanya.

Sarpin sering memberi wejangan soal agama. Juga mewanti-wanti

keluarganya agar tidak tersangkut masalah hukum. “Jika ada yang tersangkut masalah hukum, jangan ngadu ke dia,” ujar Jimmy, keponakan Sarpin.

Keluarga besar Sarpin memang menjauh dari urusan hukum. Bahkan, selain Sarpin, hanya satu yang mengikuti jejaknya menekuni ilmu hukum, yakni Vidi Caesario Rusady. Namun Sarpin melarang putra bungsunya itu jadi hakim. “Saya larang anak saya jadi hakim karena independensi hakim itu sudah tidak ada sekarang,” ujarnya. “Hakim sudah diobok-obok sekarang. Saya katakan itu.”

Sarpin menunjuk Komisi Yudisial sebagai pihak yang kerap mengganggu kerja hakim. Bahkan, kata dia, hakim jadi ragu dalam memutus perkara karena takut dipanggil Komisi Yudisial.

Sarpin pun setidaknya tercatat delapan kali dilaporkan ke Komisi Yudisial karena vonis-vonisnya dinilai bermasalah. “Salah satunya laporan terkait suap,” kata Ketua Komisi Yudisial uparman Marzuki.

Menurut Suparman, yang diteruskan pemeriksaannya hanya yang dugaan suap itu. Laporan lainnya dianggap  tak punya bukti konkret oleh Komisi Yudisial.

Sarpin mengatakan hanya dua kali dipanggil Komisi Yudisial itu. Dalam salah satu pemeriksaan itu, Sarpin mengatakan pernah ditanya oleh seorang komisioner soal keinginan menjadi hakim pengadilan tinggi.

Kala itu, Sarpin balik minta bantuan agar ia tak lagi jadi hakim pengadilan negeri. Bagi dia, posisi itu tak berat lantaran cukup berurusan dengan berkas tanpa perlu bertemu dengan pihak-pihak yang beperkara.“Kemarin saya minta hakim tinggi supaya enggak ada beban berat seperti ini,” ujarnya.

“Tapi belum waktunya katanya, dan ternyata saya malah dipindah ke PN (Jakarta) Selatan.”Ketika sebagian hakim memupuk cita-cita menjadi hakim agung, Sarpin, yang sudah 23 tahun berkarier, menyatakan tak tertarik dengan jenjang pengadil tertinggi itu. Seperti lagu Soldier of Fortune, yang bercerita soal petualang yang mulai dikejar usia, Sarpin mengatakan, “Saya enggak bercita-cita jadi hakim agung, (kalau dicalonkan) saya malah mau minta pensiun.”

IBAD DUROHMAN, MONIQUE SHINTAMI, BAHTIAR RIFAI, JOHN NEDY KAMBANG, RIVKI | OKTA WIGUNA

Sumber : Majalah detik