Kronologis Peristiwa dan Penyergapan Terduga Teroris di Solo

Post Date :

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mktime() [function.mktime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: models/news.php

Line Number: 233

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_specialreport.php

Line Number: 5

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead

Filename: content/read_specialreport.php

Line Number: 5

Selasa, 04 September 2012   | 00:00:00

Kronologis Fakta Peristiwa :

Pada hari Jumat dinihari tanggal 17 Agustus 2012 di Solo, tepatnya  di wilayah Polres Surakarta di daerah Pospam Gemblengan,  dan pada pukul 01.04 WIB di pos pengamanan lebaran terjadi teror penembakan oleh pelaku di duga teroris. Korban Bripka Hendro dan Briptu Kukuh (luka  tembak). Di lokasi telah ditemukan 8 selongsong peluru yang digunakan oleh pelaku teror. Diduga senjata yang digunakan berjenis FN  dan pelaku diindetifikasi menggunakan sepeda motor Suzuki  Smash bernopol AD 2434 HB.

Pada tanggal 18 Agustus 2012 terjadi pula pelemparan granat di pos pol Gladak. Selanjutnya pada tanggal 30 Agustus 2012, pukul 21.30 WIB pos polisi Singosaren diberondong tembakan yang mengakibatkan tewasnya Bripka Dwidata Subekti  dengan 4 luka tembakan, 2 tembakan pelaku teror mengenai dada.

Pada hari Jumat, tanggal 31 Agustus 2012 sekitar pukul 21.00 WIB, Detasemen Khusus 88 Antiteror melakukan penyergapan dan menembak dua orang yang diduga terlibat dalam kasus penembakan Pos Polisi Mall Singosaren, Serengan, Solo, Jawa Tengah. Penyergapan itu diwarnai kontak senjata hingga menyebabkan dua pelaku dan seorang anggota Densus 88 tewas. Saat itu kedua terduga teroris sedang mengendarai motor dari arah timur ke barat di Jalan Veteran 1, Kelurahan Tipes. Saat tiba di sebelah selatan Lotte Mart, kedua terduga lantas dipepet oleh mobil yang dikendarai oleh rombongan Densus 88. Saat akan ditangkap, kedua terduga teroris itu melakukan perlawanan. Kedua belah pihak akhirnya terlibat baku tembak di depan warung makan Pak Slamet.

Tembakan Densus 88 anti teror mengenai pelaku hingga keduanya tersungkur di tepi jalan. Di bekas lokasi terlihat darah berceceran dan pecahan kaca helm. Dua terduga teroris tewas dan satu anggota Densus 88 bernama Bripda Suherman juga tewas tertembak. Satu orang pelaku diketahui bernama Farhan. Pelaku mengalami luka parah di bagian kepala. Adapun Suherman tertembak di bagian dada.

Pelaku  diduga teroris semuanya berusia remaja. Mereka adalah Muksin,19, Farhan,19, dan Bayu Setiono alias Bayu Setiawan, 22. Nama terakhir bahkan diakui keluarganya baru berusia 16 tahun. Muksin dan Farhan tewas dalam baku tembak, sedangkan Bayu Setiono ditangkap.

Jenazah kedua terduga teroris itu langsung diangkut menggunakan mobil ke arah barat. Proses pengangkutan itu berlangsung sangat cepat. Warga sekitar termasuk para pedagang langsung diminta pergi. Sementara itu dua orang pedagang yang ada di sekitar lokasi penembakan, yakni Slamet dan istrinya, dibawa polisi untuk dijadikan dijadikan saksi karena melihat penembakan.

Barang bukti yang disita dari hasil penyergapan itu adalah 1 pucuk pistol pietro baretta made in Italy di sisi sebelah bertuliskan PNP property philipines national police. 3 Buah magazine, 43 peluru kaliber 9 mm merk Luger, dan 9 holopoint CBC 9 mm. Ditemukan pula beberapa lembar surat yang menjelaskan ideologi mereka. isi surat menjelaskan  pembalasan dendam kepada polisi karena telah menangkap tokoh mereka. bentuk kata sandi balas dendam tersebut adalah “ main bola”.

Analisis Dugaan Kasus dan Jaringan Pelaku Teror

Pengungkapan pelaku teror dalam peristiwa baku tembak di Solo, diduga karena polisi mencoba merunut kejadian penyerangan dan pelemparan granat kepada pos polisi di Solo sebelumnya. Dari berbagai informasi dan peralatan yang digunakan pelaku, pihak aparat keamanan kemudian menyimpulkan ada keterkaitan dengan jaringan terorisme. Diduga kelompok-kelompok tersebut merupakan gerakan-gerakan yang memiliki pengalaman lokal yang pernah beraksi sebelumnya di Klaten dan Cirebon.

Kelompok teroris ini diduga memiliki kaitan dengan kelompok garis keras Moro di Filipina pimpinan Abu Sayyaf. yang diduga merupakan salah satu sel dari jaringan besar terorisme internasional.

Penyergapan teroris Solo diawali dengan penangkapan MAWAN KURNIAWAN   ( 35 ) di Jl. Cluster Pawenang 2 No A3 Bandung pada hari kamis tanggal 30/8/12 pukul 09.00 WIB. Selanjutnya penangkapan BAYU di Karang anyar. MAWAN KURNIAWAN sebagai ahli IT terkait dengan RIZKY GUNAWAN yang ditangkap pada tanggal 3 Mei 2012 yang lalu di Gambir dan merupakan jaringan  teroris MEDAN (dengan aset + 8 milyar sudah diamankan)

Keterlibatan para pelaku antara lain: penembakan anggota Pospam Geblegan Serengan, Solo pada 17 Agustus malam. Pelemparan granat di Pospam Gladak, Surakarta pada malam takbiran, penembakan anggota pos jaga singosaren, dan terlibat penyelundupan senpi dari Philipina dan pelatihan militer bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf group di Mindanao Filipina Selatan.

Kelompok ini berbeda dengan jaringan teroris Dr Azahari dan Noordin M Top. Mereka tidak mendapatkan dana langsung dari Al Qaeda. Karena faktor inilah target dan positioning operasi jaringan teroris tersebut, cenderung lebih fokus pada sasaran utama yang mengancam eksistensi dan perjuangan mereka, yakni aparat.

Sel jaringan ini memiliki tiga sampai empat orang yang memiliki keahlian berbeda. Sel-sel jaringan teroris berkembang di daerah-daerah yang jauh dari fokus aparat. Mereka menyasar remaja untuk indoktrinasi.

Jaringan ini mengadakan kegiatan pelatihan militer di beberapa titik di Pulau Jawa. Pelatihan militer ini bermaterikan menculik cepat, menggunakan senjata api (senpi), membongkar senpi, dan menembak cepat.

Mereka menjadikan target polisi sebagai sasaran untuk menyebar teror yang menakutkan. Analisis ini mengacu kepada statement empat tahun lalu, oleh kelompok ini, polisi difatwakan sebagai musuh yang sudah seharusnya diperangi.

Kelompok ini merupakan jaringan baru sebagai metamorfosis dan bentuk perlawanan dari tekanan pihak aparat keamanan (pihak kepolisian) yang selama ini berhasil menghambat perkembangan gerakan atau kelompok mereka. Mereka bangkit dan membentuk kelompok baru dengan berbagai cara, antara lain membentuk kelompok baru pada saat dalam pelarian, penjara dan lewat  forum-forum internet, kamp pelatihan militer dan perkawinan.

Rafli Amar, Farhan, salah satu teroris yang tewas ditembak merupakan anak tiri dari Abu Omar alias Abu Umar. Setelah ayahnya wafat, ibunya menikah dengan Abu Omar. Abu Omar merupakan pimpinan kelompok teroris yang menyelundupkan senjata api ilegal kepada para teroris di tanah air. Dia ditangkap pada Juli 2011 lalu bersama ANDI YUNUS & NICO SALMAN. Mereka pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Al Mukmin NGRUKI Solo Pimpinan Abu Bakar Baasyir. Farhan adalah bekas santri yang mengenyam pendidikan di madrasah tsnawiyah pada 2005 – 2008, sedangkan Mukhsin murid madrasah aliyah pada 2007 – 2010, sementara Bayu diketahui hanya mengenyam pendidikan di tingkat SD dan tidak tamat. Jaringan Abu Omar ini terbongkar berkat keterangan salah satu anggota Abu Omar berinisial M yang menyerahkan diri ke Densus 88 pada Februari 2011.

Abu Omar yang juga memiliki nama lain Muhammad Ichwan, ditangkap saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina. Abu Omar telah dicari kepolisian sejak tahun 1999 karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil.

Keberangkatan Farhan ke Filipina, juga diduga ada campur tangan oleh Abu Omar. Sepertinya yang bersangkutan di duga ingin membuka hubungan dengan kelompok teror di Filipina. Namun demikian jaringan yang beraksi di Solo ini adalah jaringan baru, karena belum menemukan keterlibatan mereka dalam peristiwa teror sebelumnya. Tapi di antara mereka (jaringan baru dan lama) memang memiliki keterkaitan emosional yang cukup erat dengan jaringan yang sebelumnya.

Farhan juga pernah tergabung dalam kelompok Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) pimpinan Abu Omar merupakan eksekutor dari 3 aksi sebelumnya yang dilakukan di SOLO. Seperti diketahui, Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta. Perannya adalah menyelundupkan senjata dari Filipina selatan ke Indonesia.

Jaringan ABU OMAR lainya adalah kelompok CIBIRU ( kelompok yang pernah merencanakan akan mengebom rombongan Presiden ) dan ada seorang warga negara Perancis (FREDERICK JEAN SALVI. kelompok ini belum tertangkap dan diindikasikan sebagai otak pengeboman KBRI Paris th 2004 & 2011).

ABU OMAR bersahabat dengan SARTONO (ayah FARHAN ) bersama dengan ZULFIKAR yang pernah ditangkap karena merencanakan pembunuhan terhadap alm MATORI ABDUL DJALIL. FARHAN telah mengikuti pendidikan militer di Filipna Selatan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012. Setelah kembali,  pelatihannya diduga dilakukan di lereng G Merbabu.

Kelompok ini, juga merupakan afiliasi dari kelompok Hisbah dan beberapa kelompok teroris yang selama ini sudah terungkap. Jadi kelompok ini memiliki hubungan diantara mereka.

Selain Abu Omar, kelompok ini juga memiliki hubungan dengan Sigit Qurdhowi yang pernah tertangkap bersama dan sempat terjadi baku tembak setahun lalu. Sigit Qurdhowi dan Hendro merupakan salah satu simpul jaringan teroris Cirebon, Jawa Barat yang ditembak mati, Sigit dan pengawalnya Hendro masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) bom gereja dan Mapolsek Pasar Kliwon bulan Desember 2010. Keduanya juga terlibat jaringan terorisme di Cirebon, dan merencanakan pembalasan terhadap Polri pada Mei 2011. Hal tersebut diketahui dari dokumen dan keterangan pelaku yang sudah tertangkap serta berkaitan dengan empat tersangka yang ditangkap sebelumnya di Solo, yaitu Ari Agung Santoso, Heri Jablay, Hari Nobita, dan Arifin.

Kelompok Hisbah pimpinan Sigit adalah kelompok Islam radikal yang selama ini keras terhadap persoalan kemaksiatan. Kelompok ini tadinya merupakan kelompok mantan preman yang bertaubat dan sering mengadakan pengajian kelompok yang diadakan oleh kelompok lain seperti pengajian urwah. Kelompok ini diduga adalah kelompok yang juga merencanakan serangkaian teror yang terjadi di sejumlah lokasi di Indonesia. Kelompok ini menamakan dirinya Tauhid wal Jihad. Para tersangka yang telah tertangkap dan tergabung dalam kelompok ini antara lain, Achmad Basuki yang tertangkap pada 17 April 2011, Arief Budiman tertangkap 24 April 2010, Andri Siswanto tertangkap 27 April 2010, Musolla dicokok 2 Mei 2011, dan Ishak Andriana tertangkap pada 6 Mei 2011.

Dalam banyak kasus, individu-individu yang sama (yang telah melewati proses hukum) terus muncul kembali dengan menggunakan jaringan-jaringan lama untuk membentuk aliansi baru. Walaupun tidak ada operasi signifikan dari kelompok teroris ini, namun bukan berarti 'ancaman' telah hilang. Kuat dugaan mereka melakukan konsolidasi berupa perluasan jaringan, khususnya yang ditujukan kepada kelompok belia, yaitu remaja Islam yang memiliki militansi dan kebencian terhadap aparat keamanan yang telah menangkap dan memenjarakan guru-guru pengajian mereka.

Kelompok baru ini juga melakukan ideologisasi dengan model dan pendekatan yang berbeda. Yakni menggunakan perangkat jaringan teknologi informasi berupa komunikasi virtual melalui jaringan sosial media, internet dan melalui situs-situs website yang mereka kelola.  Kelompok mereka juga lebih profesional dan lebih hati-hati dalam melakukan interaksi dengan publik melalui media. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari isi materi-materi yang diposting di situs-situs 'radikal'.  Kelompok baru ini sepertinya mengambil pelajaran penting dari kasus penangkapan tokoh-tokoh mereka di Aceh dan Medan, serta menyadari sejauh mana kelompok mereka telah disusupi oleh musuh dari jajaran intelijen RI sehingga mereka lebih waspada.