Perubahan Geopolitik Asia dan Implikasinya Bagi Indonesia

Post Date : Rabu, 25 Juni 2014   | 17:56:39

I.    Pendahuluan


Konstelasi geopolitik dewasa ini semakin berubah arah. Pendulum perubahan mulai mengarah ke kawasan timur dunia. Eropa dan Amerika Serikat yang dulu menjadi kiblat ekonomi dunia, mulai memudar reputasinya. Asia mulai menggeliat pertumbuhannya, seiring melemahnya ekonomi Eropa dan Amerika. Negara-negara besar kini mulai mengincar pengaruh di Asia, wilayah yang sedang bertumbuh ranum.
Namun, bergesernya fokus pengaruh tersebut juga berpotensi menciptakan gelombang perang dingin baru. Mengingat, calon super power baru dunia yaitu Cina, sudah berancang-ancang untuk menancapkan pengaruhnya di kawasan ini. Hal ini terlihat dari peningkatan postur militernya.

Target pertarungan negara-negara besar tersebut sudah bukan pada tataran ideologi seperti era perang dingin liberalisme versus komunisme. Dewasa ini, sasaran persaingan adalah penguasaan sebanyak mungkin sumber daya alam, khususnya energi dan mineral.



II.    Perkembangan kekuatan militer Cina

Perubahan geopolitik di Asia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan kekuatan militer beberapa negara di kawasan tersebut, khususnya Cina. Di tengah melemahnya ekonomi dunia, negeri Tirai Bambu justru menunjukan performa ekonomi yang sebaliknya. Hal ini nampak dari tingkat pertumbuhan Cina yang cukup signifikan.

Pertumbuhan ekonomi tersebut mendorong Cina untuk mengembangkan postur militernya. Indikasinya terlihat dari peningkatan anggaran militer negara tersebut, yang pada tahun 2011 mencapai 91,48 milyar dolar AS (naik 12,7 persen dari anggaran 2010). Namun, angka resmi ini diduga lebih rendah daripada realisasinya. Pihak AS menduga anggaran militer Cina menembus angka 100 milyar dolar.

Dewasa ini, Cina memang terkesan sangat giat meningkatkan kekuatan militernya. Khususnya, dalam pengembangan angkatan udara dan angkatan lautnya.

Cina telah berhasil mengembangkan prototipe pesawat tempur siluman J-20, Pesawat ini mampu menembus radar musuh, yang diduga sebanding kemampuannya dengan F-22 Raptor, buatan Locheed Martin, milik AS. Negara ini juga berhasil mengembangkan kapasitas desain pesawat tempur SU-30 dan SU-27. Selain itu, juga meningkatkan kemampuan kapasitas isi ulang bahan bakar pesawat tempurnya, sehingga daya jangkaunya semakin jauh.

Di sisi lain, angkatan laut Cina pun diperkuat oleh armada kapal induk. Dengan memiliki dua kapal induk (satu sudah diluncurkan dan satu lagi dalam tahap akhir pembangunan), postur AL Cina semakin bergeser dari kekuatan green ocean, menjadi blue ocean. Selain itu, dikembangkan pula misil balistik kapal selam dari kelas Jin, yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Dengan peningkatan kekuatan tersebut, militer Cina semakin memposisikan dirinya menjadi kekuatan ofensif, bukan hanya defensif. Dampaknya, daya gentarnya pun semakin meningkat.

Proses awal gelar kekuatan tersebut tidak terlepas dari potensi konflik di kawasan Laut Cina Selatan yang cukup besar. Potensi konflik ini tidak terlepas dari upaya masing-masing negara untuk menguasai potensi sumber migas yang besar di wilayah tersebut. Diperkirakan, potensi gas alam sekitar 7.500 kilometer kubik (266 triliun kaki kubik). Selain itu,  posisi Laut Cina Selatan juga strategis sebagai alur maritim, karena dilalui oleh sepertiga lalu lintas maritim dunia.

Dalam satu dekade terakhir ini, Cina sangat agresif mengklaim bahwa perairan laut Cina Selatan merupakan bagian dari teritorialnya. Alasannya, secara historis kawasan perairan tersebut merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Cina.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan memicu perlombaan senjata di kawasan Asia Pasifik, sebagaimana yang terjadi di era perang dingin lalu.
 
Secara faktual, beberapa titik lokasi di Laut Cina Selatan tergolong sebagai hot spot, karena adanya sengketa teritorial yang melibatkan beberapa negara, seperti Cina, Filipina, Malaysia, Vietnam, Kamboja dan Brunei Darussalam.

Secara faktual pergesekan itu sudah beberapa kali terjadi, yang terakhir   pihak AL Cina dan Filipina kembali terlibat dalam insiden saling usir (11/4/12), di Scarborough Shoal, sekitar 124 mil laut dari pantai barat Pulau Luzon. Oleh pihak Cina, Shoal tersebut dinamai Pulau Huangyan.

Insiden tersebut dipicu oleh penangkapan nelayan Cina oleh AL Filipina, yang dianggap telah melanggar batas wilayah. Dua kapal patroli AL Cina kemudian menghadang kapal perang Filipina yang mencoba menangkap nelayan Cina tersebut.

III.    Reaksi Atas Perkembangan Militer Cina

Efek deterence dari peningkatan kekuatan militer Cina yang semakin bergeser menjadi kekuatan ofensif ini, langsung mendapat reaksi dari pihak AS.  

Langkah AS dalam menyikapi perkembangan kekuatan Cina tersebut terlihat cukup agresif. Yaitu dengan merealisir rencana penempatan pasukan marinirnya di Australia. Tahap pertama, 200 marinir AS telah tiba di Roberston Barracks, Darwin. Mereka adalah gelombang pertama dari 2.500 tentara yang nantinya akan datang ke Australia hingga 2017.

Selain itu, pihak Australia pun telah menawarkan Cocos Island kepada AS, untuk digunakan sebagai pangkalan udara bagi pesawat pengintai tanpa awak. Militer AS, rencananya akan menempatkan pesawat pengintai tanpa awak (Drone), yang dikenal dengan nama Global Hawk. Pesawat ini mampu melintasi wilayah Indonesia tanpa terdeteksi.

IV.    Implikasi terhadap Indonesia

Sebagai negara yang berbatasan langsung sekaligus merupakan bagian dari kawasan yang sedang mengalami perubahan geopolitik, Indonesia idealnya mampu memainkan peranannya secara maksimal. Targetnya, selain menekan ekses negatif juga menciptakan peluang bagi Indonesia sendiri.

Keberadaan pasukan AS di Australia dan rencana penempatan armada pesawat drone di pulau Cocos, tidak bisa dipandang secara naif. Sebagaimana pernah dinyatakan oleh Presiden Soekarno, bahwa Indonesia akan selalu menjadi incaran pihak asing, mengingat kekayaan alamnya yang luar biasa.

Ibaratnya, dengan menempatkan pasukan dan alat tempurnya di Australia, maka AS dengan sekali dayung dapat melampaui dua pulau. Di samping bisa memperkuat pos aju dalam gelar pasukan di Asia Pasifik dalam menghadapi Cina, wilayah Indonesia bahkan Asia Tenggara pun berada dalam genggaman pengawasannya.

Bagi Indonesia, hal ini tentunya berpotensi mengancam kedaulatan wilayah, mengingat dengan kemampuan daya jelajah yang tinggi, dengan beroperasinya pesawat intai siluman AS jelas mengancam kedaulatan angkasa Indonesia. Apalagi, sebagian kalangan sudah sangat mahfum, kemampuan deteksi dini jaringan radar pertahanan udara di wilayah timur Indonesia belum maksimal.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga mendorong munculnya perlombaan perkuatan senjata di wilayah itu. Hal ini merupakan konsekwensi logis yang muncul akibat dari meningkatnya potensi konflik kawasan. khususnya di Asia Tenggara. Masing-masing negara tentunya akan meningkatkan kemampuan dan daya gentar militernya. Walaupun terikat dalam ASEAN, namun persaingan perimbangan kekuatan militer merupakan hal hakiki bagi setiap negara.

Sebagai contoh, Malaysia saat ini sedang menggebu-gebu untuk memperkuat persenjataannya. Negara jiran itu sudah mendekati proses negosiasi final untuk membeli sistem rudal antitank Kornet, rudal panggul antipesawat Igla, dan masih terus bernegosiasi untuk membeli kapal perang berpeluru kendali dan kapal-kapal patroli.

Kapal perang kelas Molniya dan kapal patroli kelas Mirazh, direncanakan akan memperkuat jajaran AL Malaysia. Kapal perang kelas Molniya adalah kapal jenis korvet hasil pengembangan kapal perang kelas Tarantul. Kapal sepanjang 56,1 meter ini dilengkapi dengan sistem radar dan persenjataan terbaru, termasuk rudal antikapal P-270 Moskit-E (SS-N-22 Sunburn) dan rudal antipesawat Igla.

Walaupun berbeda dimensinya, namun pertarungan kekuatan Cina dan AS, mengembalikan ingatan publik pada suasana di awal 60-an, di mana wilayah Asia Tenggara menjadi mandala proxy war dua kekuatan dunia, yaitu Blok Barat dengan Blok Timur.

Tentunya, hal ini harus disikapi oleh pemerintah secara cerdas dan taktis. Mengingat, tidak tertutup kemungkinan, Indonesia juga menjadi sasaran kekuatan asing dalam hal penguasaan sumber daya alam semakin luas.

Secara historis, di era perang dingin yang juga merembet ke kawasan Asia Tenggara, pemerintahan Soekarno berhasil memainkan kartu truf yang memberikan keuntungan strategis. Salah satu  hasilnya adalah Indonesia berhasil membangun kekuatan militer yang sangat disegani di kawasan.

Namun sayangnya, Presiden pertama itu gagal membangun benefit ekonomi. Sehingga, ini patut dijadikan pelajaran bagi pemerintah yang berkuasa, bahwa Indonesia pada dasarnya tidak pernah kehabisan potensi yang bisa diolah terkait perubahan geopolitik di kawasan.

Dengan kesadaran tersebut, tentunya pemerintah bisa memacu kepercayaan dirinya, sehingga tidak sekedar menjadi good boy yang hanya manut pada satu sisi kekuatan saja (baca : AS), namun bisa memainkan peran untuk memanfaatkan persaingan dua kekuatan besar barat dan timur tersebut. Tentunya dengan kerangka holistik, sehingga bisa membangkitkan kembali kejayaan bangsa yang sebagaimana yang  pernah tercatat dalam sejarah.

*Arf