perkembangan situasi nasional minggu ke 2 bulan Juli 2010

Post Date :2010-07-13 17:51:23

 

Selama beberapa hari dalam pekan kedua bulan Juli 2010 ini, pemberitaan media masih didominasi oleh isu-isu politik nasional. Dari empat media cetak nasional yaitu Kompas, Media Indonesia, Rakyat Merdeka dan Bisnis Indonesia, diperoleh data intensifikasi pemberitaan seperti yang tertuang dalam grafik di atas. Untuk mengetahui garis besar isu-isu nasional tersebut, berikut akan dijelaskan kecenderungan materi dan arah pemberitaan beberapa media :

1.      Kasus Sisminbakum

Pemberitaan kasus Sisminbakum yang menjerat politisi Yusril Ihza Mahendra, intensitasnya semakin meningkat. Dengan prosentase sebesar 24%, kontroversi politis atas mencuatnya kasus ini semakin tak terhindarkan. Terbukti, seperti yang tergambar dalam grafik, pernyataan narasumber terkait kasus ini lebih didominasi oleh kalangan legislatif maupun pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa perseteruan antara Yusril dan Hendarman Supandji telah memicu reaksi yang sedemikian tinggi dari para pelaku politik. Perdebatan seputar keabsahan jabatan Jaksa Agung, ditanggapi secara skeptis oleh pemerintah dan DPR yang menganggap Keputusan Presiden masih valid dan status Hendarman sendiri tetap sah. Pihak kejaksaan mengganggap bahwa wacana ini sengaja digulirkan Yusril untuk membenturkan antara hukum pidana kasus korupsinya dengan hukum administratif negara. Meskipun begitu, serangkaian kejanggalan seputar kasus ini tetap dikritisi oleh banyak pihak. Lolosnya Hartono Tanoe ke Taiwan, memunculkan dugaan adanya suap terhadap Jaksa Agung Hendarman Supandji. Selain itu, persoalan ada atau tidaknya kerugian negara di balik kebijakan yang dikriminalisasi ini, masih perlu mendapatakan pembuktian lebih lanjut.    

2.      Rekening Gendut Pejabat Polri

Pemberitaan seputar rekening gendut beberapa petinggi Polri terus menuai kontroversi. Intensitas pemberitaannya di beberapa media mencapai angka 17%. Polri yang sebelumnya pernah mengancam akan memperkarakan majalah Tempo, ternyata telah bersedia menempuh upaya damai dengan dimediasi oleh Dewan Pers. Perubahan sikap Polri ini, bertepatan dengan momentum HUT Bhayangkara yang ke 64 tahun, dimana dalam kesempatan itu Presiden SBY menekankan agar institusi Polri mampu menjawab segala kritik dari masyarakat. Termasuk salah satunya dengan menindaklanjuti dugaan rekening mencurigakan para perwira Polri, baik itu secara independen oleh institusi Polri itu sendiri atau dengan melibatkan Kejaksaan maupun KPK. Respon dari kalangan pemerintah maupun DPR, menunjukkan bahwa kasus ini telah menjadi sorotan dan konsumsi politik para petinggi negara. Tensi kasus yang sedemikian tinggi juga meningkatkan potensi konflik diantara pihak-pihak terkait. Seperti yang terjadi saat ini, di tengah upaya rekonsiliasi antara Polri dan pihak Tempo, kantor majalah tersebut justru dilempari bom molotov oleh orang tidak dikenal. Kejadian ini membuat tekanan terhadap institusi Polri semakin meningkat, dan mencuatkan dugaan adanya pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan kondisi ini untuk menjatuhkan citra Polri di mata masyarakat.         

3.      Penganiayaan Terhadap Aktivis ICW

Belum reda kontroversi seputar penyerangan kantor majalah Tempo, publik kembali dikagetkan dengan penganiayaan aktivis ICW, Tama Satria Langkun. Dengan prosentase pemberitaan sebesar 10%, topik ini menjadi perhatian utama publik. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari kalangan pegiat anti korupsi yang menganggap bahwa negara belum mampu memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi para aktivis. Polri sempat dicurigai sebagai dalang penyerangan aktivis ini, karena kejadiannya tidak berselang lama setelah ICW melaporkan adanya rekening mencurigakan beberapa jenderal polisi. Kapolri sudah membantah keterlibatan institusinya dalam tragedi ini dan menduga ada beberapa pihak yang sengaja memanfaatkan situasi untuk memperkeruh keadaan serta mengadu domba Polri dengan pihak-pihak lain. Seluruh pihak termasuk pemerintah dan kalangan DPR mendesak agar kepolisian menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik penyerangan ini.     

4.      Kontroversi Atas Pernyataan dan Sikap Politik Golkar

Beberapa media menyoroti pidato Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang menyatakan bahwa kader beringin harus memiliki karakter politik yang lihai seperti tikus. Personifikasi ini dimaksudkan untuk menekankan sikap kejelian dan kehati-hatian para kader Golkar dalam berpolitik, agar tidak mudah ditikam (dijatuhkan) oleh kekuatan lawan politiknya. Namun pernyataan ini direspon negatif oleh berbagai kalangan yang menilai bahwa analogi semacam itu justru melecehkan nilai-nilai perpolitikan itu sendiri. Mitra koalisi Golkar di setgab juga menyayangkan pidato Ical tersebut dan menghimbau agar Golkar tetap mengedepankan kebijaksanaan dalam berpolitik, bukan mengutamakan kelicikan dan permainan kotor lainnya. Golkar sendiri saat ini dibayangi perpecahan akibat munculnya ormas Nasdem yang dipelopori oleh Surya Paloh. Di sisi lain, rivalitas antara Ical dan Hatta Radjasa membuat Golkar dan PAN melancarkan berbagai jurus akrobatik politik. Mulai dari wacana konfederasi hingga pendekatan terhadap berbagai parpol kecil demi menyusun kekuatan menghadapi Pemilu 2014 mendatang.    



>