Beijing Kerahkan Peluru Kendali di Pulau Sengketa

Media : INVESTOR DAILY | Wartawan : Happy Amanda Amalia | Kamis, 18 Februari 2016  | 13:23 WIB

BEIJING - Pemerintah Taiwan menyampaikan, bahwa Tiongkok telah mengerahkan peluru kendali darat ke udara atau surface-to-air missiles (SAM) di sebuah pulau yang disengketakan di Laut China Selatan, Rabu (17/2). Hal itu dikarenakan Beijing bersikeras memiliki hak untuk membangun sistem per-tahanan diri di wilayah strategis.
Kementerian Pertahanan Taiwan menegaskan kebcradaan fasilitas tersebut setelah Fox News melaporkan peluncur-peluncur rudal telah tiba di Pulau Woody, bagian dari gugusan Paracel, dalam sepekan terakhir.

Di sisi lain, Beijing disebut-sebut telah menguasai seluruh Paracel, yang juga diklaim oleh Hanoi dan Taipei. Ketegangan di wilayah laut itu pun semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir semenjak Tiongkok mengubah gugusan terumbu karang di Kepulauan Spratly menjadi pulau-pulau buatan untuk men-dukung fasilitas militer.

Menanggapi langkah Beijing, Washington mengatakan langkah tersebut mengancam bagian bebas di daerah-daerah strategis yang pen ting dan memicu kapal-kapal perang berlayar mendekati pulau-pulau yang disengketakan untuk mempertegas hak kebe-basan bernavigasi.

Menurut kalangan ana-lis, pengerahan peluru kendali dapat menjadi upaya untuk
menghalangi kebebasan opera-sional bernavigasi atau FONOP. Pesawat militer Australia juga rutin terbang melintasi wilayah udara di kawasan itu.

Fox News melaporkan bahwa ada gambar-gambar yang menunjukkan dua baterai dari de-lapan peluncur peluru kendali Han sistem radar telah tiba diPulau Woody, pulau utama Paracel, Selasa (16/2).

“Kementerian pertahanan telah mempelajari sisem peluru kendali pertahanan udara yang dikerahkan oleh komunis Tiongkok di Pulau Yongxing,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan kepada AFP.

Namun, usai rapat dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, Menlu Tiongkok Wang Yi menjelaskan laporan yang disaippaikan Fox News sebagai upaya media Barat tertentu untuk membuat berita-berita baru.

Meski demikian, dia tidak secara eksplisit menyangkal pengerahan peluru kendali,
..sebaliknya dia menekankan perhatian yang lebih besar pada mercusuar-mercusuar yang telah dibangun di beberapa pulau dan karang di I.aut China Selatan.

“Fasilitas pertahanan rliri yang dibangun Tiongkok di pulau-pulau itu konsisen dengan hak untuk mempertahankan diri dan melindungi diri. Tiongkok memiliki hak tersebut berdasarkan hukum internasional,” ungkap Wang.

Resolusi Damai Asean-AS

Kabar pengerahan peluru-peluru kendali oleh Tiongkok beredar pada saat Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama inenyerukan langkali-langkah nyata untuk meredakan ketegangan di wilayah tersebut.

Laporan kedatangan baterai-baterai peluru kendali membuat Obama dan 10 pemimpin negara Asean, yang bertemu dalam KTT Asean-AS di California, termasuk Vietnam mengeluarkan pernyataan bersama menyerukan resolusi damai atas salinji klaim pulau-pulau dan terumbu karang.

Para pemimpin negara juga menyuarakan kcprihatinan atas pembangunan militer oleh Beijing di daerah itu

"Kami membahas perlunya langkah-langkah nyata di Laut China Selatan untuk meredakan ketegangan,” kata Obama, seraya inenyerukan penghen-tian reklamasi lebih lanjut, kon-truksi baru dan militcrisasi di daerah sengketa - di mana ter-kanduang sepertiga cadangan minyak mentah dunia.

Tiongkok mendirikan kota ke-cil Sansha di Pulau Woody, pada 2012 untuk mengelola wilayah perairan dan pulau-pulau yang luas. Ini menciptakan keanehan lebih jauh karena kota terluas di dunia ini memiliki popiilasi kecil, sekitar 1.000 orang.

Peluru Kendali HQ-9

Sementara itu, laporan Fox News didasarkan pada gambar-gambar dari ImageSat Internasional yang dirilis pada awaklpekan ini, memperlihatkan pekerjaan reklamasi di Paracel.

Menurut laporan, peluru kendali itu sepertinya sistem pertahanan udara HQ-9, dengan jarak jangkauan sekitar 200 kilometer.

Para ahli menyampaikan pe-luru-peluru kendali itu dapat digunakan untuk menargetkan pesawat musuh.

Kevin Cheng, pemimpin redaksi Majalah Asia-Pacific Defense yang berbasis di Taipei, menyebutkan kepada HQ-9 dapat memperburuk ketegangan di negara-negara tetangga, khususnya Vitenam.

“Pengerahan militer dapat dipandang sebagai bentuk pel-anggaran seruan AS atas kebebasan bernavigasi di wilayah itu dan memungkinkan pihaknya. memiliki banyak alasan untuk mencampuri urusan di sana,” tambah dia.

Sedangkan, Rory Medcalf, ahli keamanan Asia di Australian National University berko-mentar: “Jika ini dimaksudkan sebagai sinyal untuk mengga-galkan FONOP, saya ragu akan berhasil.”

Namun saat dihubungi AFP untuk dimintai tanggapannya terkait pengerahan peluru kendali Tiongkok, Pentagon menolak memberi konfirmasi. (afjp)