"Ada Informasi, PBB Memang Mau 'Dihabisin'"

Post Date : Senin, 01 April 2019   | 04:38:15

VIVA –  Partai Bulan Bintang sejak awal berdiri pada tahun 1998 telah menetapkan diri sebagai partai penerus Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Masyumi adalah organisasi yang terkenal konsisten membela Islam. Awal pendirian, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendara terpilih menjadi ketua umum partai ini. 

Partai Bulan Bintang tercatat telah ikut pemilu empat kali, yaitu pada Pemilu tahun 1999, 2004, 2009, dan 2014. Pada Pemilu 1999, Partai Bulan Bintang mampu meraih 2 juta suara, atau sekitar 2 persen, dan meraih 13 kursi DPR. Pada Pemilu 2004 memenangkan suara 2,9 juta pemilih atau 2,6 persen. 2005, Yusril lengser dari PBB digantikan oleh MS Kaban, Menteri Kehutanan di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1. 

Sayangnya, sejak itu suara PBB semakin meredup. Dalam Pemilihan Umum Anggota Legislatif 2009, partai ini hanya  memperoleh 1,8 juta suara yang serata dengan 1,7 persen. Artinya, PBB tidak mampu meraih perolehan suara melebihi parliamentary threshold 2,5 persen sehingga berakibat tidak memiliki wakil seorang pun di DPR. Pada April 2015, Yusril Ihza Mahendra kembali terpilih sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Partai ini kembali menggeliat untuk mencuri suara publik dan menempatkan kembali wakil mereka.

Meski kerap disebut akan menjadi under dog, tapi PBB melawan. Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang Afriansyah Noer alias Ferry, memastikan PBB telah mengerahkan segenap kemampuan untuk kembali melenggang dan lolos dari parliamentary thershold atau PT sebesar empat persen.

Ketika wawancara dengan VIVA, pada pertengahan Maret lalu, Ferry menceritakan apa saja yang telah dilakukan partainya untuk merebut suara. Ferry mengaku, banyak yang menginginkan PBB dihabisi, tapi ia dan Yusril terus melakukan berbagai hal agar bisa bertahan dan menang. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan menyebar lima juta stiker yang memasang wajah Yusril dan menawarkan bantuan hukum pada masyarakat yang membutuhkan. Di stiker tersebut tercantum nama dan logo Partai Bulan Bintang, sekaligus nomor hotline.

Apakah cara tersebut efektif? Benarkah PBB melakukan apa saja untuk menang? Mengapa memberi dukungan pada paslon 01? Dan apa saja yang terus dilakukan agar PBB tak tenggelam oleh beratnya PT? Kepada VIVA, Ferry, alumni Universitas Nasional Jakarta, dan mengaku meniti karier politik di PBB sejak anggota biasa hingga menjadi sekjen,  menceritakan itu semua. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana kesiapan PBB dalam menghadapi Pileg mendatang?
Alhamdulillah dari tahun 2017 saya diamanahkan menjadi Sekjen PBB Mei 2017. Saat itu belum ada verifikasi faktual dari KPU. Kemudian pada November 2017 baru memasuki tahapan verifikasi faktual oleh KPU.  Alhamdulillah dalam waktu yang sempit itu saya bisa menyelesaikan perbaikan infrastruktur partai dari tingkat DPP, DPW, DPC dan PAC. Total 514 DPC kita sempurnakan. Kita perbaiki dan kepengurusannya, yang tadinya tidak ada kita buat. Alhamdulillah selesai.

Jadi PBB sempat terseok-seok juga untuk bisa lolos?
Itulah yang terjadi. Beberapa kali kami dikatakan tidak lolos. Tetapi kami merasa siap. Kok dibuat tidak lolos? Pada akhirnya kita sempat menggugat ke pengadilan, Bawaslu, Alhamdulillah berhasil. Kemudian masuk ke tahapan pembentukan PAC yang persyaratannya harus 50 persen. Kita bentuk seluruh Indonesia dengan kemampuan dan kekuatan yang ada, ditambah dengan instruksi Ketum yang memang tegas. Alhamdulillah walaupun dengan terseok-seok, kami bisa menyelesaikan tahapan-tahapan pemilu yang harus kami jalani sesuai dengan Undang-undang pemilu. 

Apa yang dilakukan Ketum sehingga banyak yang kembali tertarik ke PBB?
Karena PBB ini dianggap oleh mereka itu betul-betul melakukan pembelaan terhadap umat. Pembelaan terhadap ormas-ormas Islam, tokoh-tokoh Islam, kemudian aktivis-aktivis, baik yang Islam maupun yang nasional. Karena memang kami di DPR tidak punya fraksi saat ini. Gerakan-gerakan nyata seperti inilah yang kami lakukan, sehingga masyarakat tahu Bulan Bintang. Alhamdulillah banyak orang yang mendaftar ke Partai Bulan Bintang. Akhirnya kami susah menyeleksi. Jadi ada beberapa Dapil yang kelebihan kuota. Kuotanya itu seharusnya 10 atau 9 kursi, yang mendaftar sampai 30 orang, ada 20 orang, ada yang 15 orang.

Berapa jumlah caleg yang dicalonkan oleh PBB?
Dari sekitar 80 dapil itu kami terpenuhi sekitar di 60 dapil. Nah sisa 20 dapil ini lah yang kami subsidi. Misalnya Papua, ke NTT. kami mencoba merayu mereka agar mau ke Dapil yang lain. Nah, sebagian besar tidak mau karena alasan tidak dikenal di wilayah itu. Tapi kami juga memberikan pengertian, agar mereka bersedia kita tempatkan di Dapil lain. Tapi ada juga pada akhirnya di beberapa Dapil ada juga kuotanya yang tidak full. Karena memang peminatnya tidak banyak dan mereka juga bukan orang sana, dan kebetulan memang PBB ini sedikit lemah di sana. Nah ini yang terjadi. Tetapi dengan kita kasih masukan, kita kasih pengertian, mereka akhirnya bersedia menjadi calon dan mereka bergerak. Jadi ada orang Jakarta kita tempatkan di Kalimantan, ada orang Jawa kita tempatkan di Sulawesi, dan itu terjadi.

Jadi intinya setelah Proses Sistem Informasi Pencalonan (Silon) itu pun kami masih sempat terhambat. Bisa dibilang, kami hanya dikatakan berhasil memasukan hampir 200 calon, padahal kita sudah memasukkan hampir 575 calon sesuai dengan kuota.  KPU sempat bilang begini-begini. Dan itu kita lawan lagi di Bawaslu, karena kami merasa sudah lengkap.

Anda merasa PBB dihalangi?
Jadi memang proses ketidakadilan ini saya lihat dari awal sudah terjadi. Dan kami amati dari awal PBB ini mau dihabisin gitu. Pertama dicoba agar kita tidak bisa ikut pemilu. Alhamdulilah kita berhasil melewati tahapan verifikasi faktual sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Silon pun selesai. Dan ketika calegnya sudah lengkap, administrasinya sudah lengkap, ada memang kendala, yaitu kita terlambat menginput ke IT-nya KPU. Tetapi kan kami punya data, akhirnya itulah yang kita gugat. Partai lain pun sama kejadiannya, bukan PBB saja, tapi kenapa PBB yang selalu diincar gitu, nah itu yang kita lawan. 

Mengapa seperti itu?
Ya, ada informasi, katanya kita memang mau 'dihabisin.' Karena satu-satunya partai politik yang berasaskan Islam itu ya cuma PBB, partai yang lain tidak. PKS sudah tidak, PPP tidak.  Tapi setelah mereka melihat sepak terjangnya Pak Yusril dan PBB itu bukan seperti yang mereka pikirkan bahwa PBB itu radikal lah, apa lah. Jadi ini proses. Selesai dari tahapan verifikasi administrasi, faktual, dan verifikasi silon kita telah berhasil selesaikan. Baik DPRD tingkat Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI selesai.

Apa yang dilakukan PBB untuk menghadapi Pileg?
Perbaikan infrastruktur partai terus kita lakukan. Kita sadar, misalnya ada beberapa ketua DPC partai ada yang tidak aktif. Itu kita revisi, sambil kita perbaiki semua infrastruktur partai, dan Alhamdulillah partai ini bisa jalan terus.  Nah keyakinan inilah yang membuat kami, partai Bulan Bintang yakin Insya Allah pada pemilu nanti kami akan lolos di atas empat persen. Kita punya 495 caleg dari 85 dapil, kalau total semuanya kan 575 caleg kan.

Bagaimana dengan Pilpres?
Nah terkait dengan Pilpres, saya harus luruskan ini, karena kemarin itu sempat ada hiruk pikuk terkait Pilpres, terlebih lagi setelah Ketua Umum PBB Prof Yusril Ihza Mahendra menyatakan dukungannya kepada Pak Jokowi. Jadi sebenarnya di awal PBB ingin mencalonkan sendiri. Calon sendiri itu sesuai dengan undang-undang Pileg serentak dan Pilpres serentak. Tapi masalahnya adalah PT 0 persen itu tidak disetujui oleh teman-teman di DPR RI. Dan kami mencurigai memang seluruh fraksi di DPR RI memang tidak menginginkan PT 0 persen. Karena mereka menganggap kalau PT 0 persen, itu semua partai politik bisa mencalonkan calon presiden dan calon wakil presiden sendiri. Padahal tidak begitu juga. Bisa saja berkoalisi kan gitu. 

Akhirnya ketakutan inilah yang menyebabkan mereka mengesahkan undang-undang yang menyatakan Pileg dan pilpres boleh langsung, tapi menggunakan PT yang lama, yaitu 20 persen. Kami pun judicial review ke MK. Oktober-November kemarin diputuskan oleh MK, PT 20 persen berlaku. Artinya gagal perlawanan kita di MK. Itu yang terjadi. Dan akhirnya, PBB sebagai satu-satunya partai lama yang belum mencalonkan.

Soal PT ini berdampak besar ke PBB?
Nah, proses Capres dan Cawapres ini juga berdampak pada PBB. Karena ada kekuatan-kekuatan di dalam tubuh PBB yang menginginkan PBB berkoalisi ke 01, ada juga yang menginginkan ke 02. Terpecah saat itu. Akhirnya Ketua Umum mengambil sikap untuk pelajari dua tokoh ini. Sambil berjalan, kita instruksikan semua caleg harus jalan. Sebagai caleg, harus turun menyosialisasikan diri, memperkenalkan diri ke Dapilnya masing-masing. Minimal melakukan kampanye untuk memperkuat basis yang mereka tempati. Sambil proses Capres ini berjalan. Nah akhirnya Rakornas Partai Bulan Bintang tanggal 27 Januari 2019, diputuskan mendukung calon presiden 01.

Apa yang menjadi alasan PBB merapat ke Jokowi-Ma'ruf Amin? Padahal sebelumnya sempat berada di kubu 02?
Tentunya keputusan Rapimnas PBB mendukung Jokowi sudah dengan pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan pertama, karena capres-cawapres 01 lebih mau berkomunikasi dengan PBB ketimbang 02. Kemudian, 01 mempunyai komitmen bersama yaitu saling membantu dalam hal Pileg dan Pilpres ini, sementara 02 tidak.

Kemudian, kita juga melakukan banyak hal. Menurut PBB, 01 lebih mau mendengar masukan daripada 02. Jadi banyak saran-saran kami lebih diterima ketimbang 02. Jadi itulah dasar-dasar kita. Dan kedua pihak ini kedua-duanya pasangan Muslim, keduanya tidak ada kok yang non- Muslim. Bahkan 01 wakilnya jelas-jelas ulama. 

Bagaimana dengan hasil ijtima yang awalnya PBB sempat menjadi salah satu inisiator dibentuknya forum ijtima' ulama?
Hasil ijtima' yang dipaparkan oleh Pak Yusril itu adalah berupa akidah, bukan berupa politik. Kecuali kalau di pasangan 01 misalkan ada yang non-Muslim barulah kita bicara ijtima', begitu pendapat Pak Yusril. 

Kabarnya keputusan mendukung 01 mendapat tentangan dari kader, bahkan banyak yang mengancam mundur?
Iya, setelah instruksi partai dan Ketua Umum mendukung 01 di Rakornas, beberapa pihak yang berasal dari beberapa ormas tertentu memang sempat protes, bahkan mengancam untuk menarik diri atau mundur. Tapi setelah mereka berproses tidak ada yang mundur, tidak ada yang menarik diri, malah mereka sekarang turun menyosialisasikan dirinya. Karena mereka berpikir PBB ini merupakan kendaraan yang pantas dan layak untuk mengantarkan mereka menjadi anggota DPR RI ataupun DPRD Provinsi maupun Kabupaten. Jadi selesai. Cuma ada satu orang saja yang keluar, yaitu Muchsin Alatas dia caleg Jabar VI Depok-Bekasi. Dia mundur karena dia tidak enak dengan pimpinan dia di ormasnya, yaitu Habib Rizieq Syihab. Itu saja, yang lain tidak ada yang mundur.

Jadi yang lain tetap bertahan?
Tetap bertahan di PBB. Termasuk Novel Bamukmin. Dia caleg DPRD DKI Jakarta Dapil VIII. Nggak mundur tuh dia, maju terus dia. 

Artinya gejolak internal sudah selesai?
Sudah selesai semua. Dan mereka tunduk dan patuh terhadap putusan partai ke 01. Yang tidak mau 01, ya tidak bergerak untuk 02, tidak juga bergerak untuk 01. Mereka bergerak untuk dirinya sendiri, untuk partai. Nah, ini yang Alhamdulillah kita syukuri juga karena inilah proses politik, dan sekarang Alhamdulillah bisa kami atasi.

Bagaimana dengan struktur di daerah?
Semua tunduk dan patuh terhadap keputusan partai. Kemarin kami dari Sumbar, itu kan basis Prabowo. Tapi teman-teman Sumbar tetap patuh terhadap keputusan partai, mereka mengampanyekan 01. Walaupun mereka di lapangan mengakui di lapangan susah kampanye 01,  tapi Alhamdulillah mereka tetap berjalan. Kita meyakinkan mereka bahwa 01 ini lebih baik dari pada 02. 

Sepertinya berat untuk 01 di Sumbar?
Saya tanya kepada kader-kader PBB di Sumbar, kenapa ya masyarakatnya tidak suka dengan 01?  Jawab mereka, karena 01 banyak dikelilingi orang-orang enggak jelas. Katanya, ada banyak PKI, dan sebagainya. Artinya memang sebagian orang yang tidak suka 01 itu karena mereka termakan isu yang beredar selama ini, tercuci otaknya mereka. 

Nah, memang Jokowi sejak pemilu 2014 lalu tidak pernah menang di Sumbar. Pemilu 2019 ini kekalahan Pak Jokowi kita minimalisir. Tidak menang, tapi kita minimalisir. Paling tidak bisa berimbang suara Jokowi di Sumbar dengan adanya PBB kan. Dan Pak Yusril memang mendapat tugas khusus dari Pak Jokowi untuk memenangkan Pak Jokowi di daerah-daerah dimana Pak Jokowi lemah, dan kebetulan PBB di situ kuat. Sumbar, Riau, Aceh, Sumsel, Jambi, Kepri itu basis-basis PBB semua . Sumatera yang basis PBB, kita akan menangkan Pak Jokowi. PBB ini kan kuat di luar Jawa, Sumatera, Sulawesi. 

Jawa Barat dulu itu basis Masyumi, kita ambil tiga dapil. Kemudian Banten juga demikian, Banten itu basis kita dari dulu itu. Jadi semua bergerak. Di Jawa ini kami konsentrasi kan tidak mau memperoleh kursi yang banyak, tapi suara. Karena untuk lolos kan harus sekian persen suara. Jadi kami akan rebut suara di Jawa.

Berapa lama proses yang dibutuhkan hingga akhirnya PBB memberi dukungan untuk 01?
Lama, lama juga.  Prosesnya dari bulan Mei 2018 sampai dengan Januari 2019. Cukup lama dan ini terjadi perdebatan panjang di internal partai. Termasuk di ormas-ormas yang menyatakan mendukung Partai Bulan Bintang sejak awal, seperti Dewan Dakwah, Persis, dan sebagainya. Tapi Alhamdulillah semua kelompok ini sekarang menerima. Mereka sadar baik 01 maupun 02 itu ada plus minusnya, tapi lebih banyak 01 plusnya, hehehehe.

Mengapa sampai membutuhkan delapan bulan?
Iya, delapan bulan. Tapi proses ini yang membuat PBB jadi berita terus di media. Jadi meski kita tidak punya uang, pemberitaan PBB alhamdulillah jalan terus.  Nah, kenapa kita pilih petahana, salah satu dasar nya adalah itu bagian dari salah satu strategi. Jangan kami didzolimi. Karena kan dari awal kami diadang terus, mulai proses verifikasi administrasi, verifikasi faktual, itu kan kami bisa dibilang hampir tidak boleh diloloskan PBB ini. Sedih saya ketika itu, baru jadi sekjen dapat tanggung jawab berat, dihadapi serangan-serangan seperti itu. Tapi Alhamdulillah, karena konsistensi kita, dengan kecerdasan Prof Yusril, kita berhasil melewati proses panjang itu.

Bagaimana mengatasi resistensi yang terjadi di internal?
Resistensi tentu terjadi. Tapi kita tunjukkan, kita yakinkan kader-kader PBB ini, bahwa apa yang dilakukan Bang Yusril ini adalah langkah-langkah strategi yang memiliki great untuk membesarkan partai. Dan ini terbukti.  Artinya kita gabung itu tidak asal gabung, dengan pertimbangan yang sangat dalam. Tadinya kita juga sempat berfikir netral. Netral itu kita fokus di pileg saja, tidak Jokowi, tidak Prabowo. Hampir kesana, ada opsi itu. Opsi pertama pilih Jokowi, opsi kedua pilih Prabowo, opsi ketiga netral. Tapi dengan pertimbangan bagaimana PBB bisa lolos ke depan, itu yang kita pikirkan. Bukan berarti kita minta Jokowi agar berlaku curang dengan cara diloloskan PBB. Sistem Pemilu sekarang ini enggak bisa curang, tapi semua kegiatan kita diberi dukunga. Itu bisa macam-macam bentuknya.  Dan di lapangan sendiri dukungan masyarakat terhadap Jokowi luar biasa. Lebih besar Jokowi dibanding Prabowo, apalagi di kalangan Nahdliyyin.

 

sumber: viva.co.id