Analisis Pemberitaan Media Bulan Januari 2012

Post Date :2012-02-13 16:08:50

A.  Deskripsi Kegiatan

  • Media massa yang dijadikan sampling penelitian berjumlah delapan media cetak berskala nasional dan empat media online.

  • Media cetak : Kompas, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Investor Daily, Bisnis Indonesia, Suara Karya, IndoPos dan Suara Pembaruan.
  • Media online : Detik.com, Kompas.com, VivaNews dan Inilah.com

  • Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Isi (Media Content Analysis), dengan mengkombinasikan teknik pengumpulan dan interpretasi data baik itu secara kuantitatif maupun kualitatif.

  • Seluruh kegiatan meliputi pengamatan, strukturisasi data, analisis hingga penyusunan kerangka konseptual, dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan. Terhitung sejak 1 Januari 2012.

  • Objek kajian dalam analisis ini adalah segala pemberitaan yang mengandung muatan politik. Berita tentang ekonomi dan hukum yang menjadi concern publik, dikategorikan sebagai sub topik politik yang juga turut dianalisis.

  • Data dan informasi selengkapnya tentang analisis media ini, didokumentasikan dalam Database Management System Starbrain Indonesia.

 

B.  Headline News

     Topik pemberitaan yang menjadi headline di media cetak maupun online adalah sebagai berikut :

  1. Kasus Suap Wisma Atlet
  2. Pembatasan BBM Bersubsidi
  3. Kasus Suap Dewan Gubernur Senior BI
  4. Korupsi Banggar DPR
  5. Demo Buruh Tuntut Kenaikan UMK

Statistika Pemberitaan

 

C.  Sub Topik Pemberitaan

  Dari headline news tersebut, dapat diketahui beberapa sub topik pemberitaan sebagai berikut :

  1. Sub Topik Kasus Suap Wisma Atlet :

  • Fakta persidangan tentang keterlibatan beberapa tokoh politik
  • Isu pencopotan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Demokrat
  • Isu perpecahan di tubuh KPK

  2. Sub Topik Pembatasan BBM bersubsidi :

  • Rapat Kerja Komisi III DPR dengan Menteri ESDM
  • Kontradiksi pernyataan beberapa menteri
  • Dugaan adanya kepentingan asing di balik pembatasan BBM bersubsidi

  3. Sub Topik Kasus Suap DGS BI :

  • Penetapan Miranda Swaray Goeltom sebagai tersangka
  • Isu mengenai penyandang dana Miranda

  4. Sub Topik Korupsi Banggar :

  • Laporan dugaan korupsi proyek ruang Banggar ke KPK
  • Pemeriksaan Wa Ode sebagai tersangka kasus suap Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur daerah (DPPID)

  5. Sub Topik Demo Buruh :

  • Gugatan Apindo atas SK Gubernur Jawa Barat
  • Pemblokiran tol oleh buruh Bekasi dan Tangerang 
  • Forum tripartit antara pemerintah, Apindo dan perwakilan buruh

 

D.  Strukturisasi Data dan Analisis

Untuk mengetahui kecenderungan isu dan pernyataan narasumber, telah dilakukan kuantifikasi terhadap sub-sub topik pemberitaan. Hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kandungan utama dari berbagai topik dan arah pembentukan opini publik oleh para stakeholder. Persentase bobot pemberitaan dan pemetaan stakeholder adalah sebagai berikut :

1.  Kasus Suap Wisma Atlet

Berdasarkan data statistik, diketahui bahwa kasus suap wisma atlet menjadi topik utama pemberitaan di beberapa media cetak maupun online. Dengan persentase mencapai 23,7%, kasus suap wisma atlet menjadi topik paling menonjol dan menyedot perhatian utama publik. Terungkapnya berbagai fakta baru dalam persidangan Nazaruddin, membuat cakupan perkara wisma atlet semakin luas. Tidak hanya berkutat dalam pembuktian hukum semata, melainkan juga bernuansa politis karena beberapa tokoh yang selama ini banyak diperbincangkan, perlahan keterlibatannya mulai dikonfirmasi oleh para saksi.

Bukti bahwa kasus wisma atlet ini cenderung bermuatan politis, terlihat dari komposisi pemberitaan yang didominasi oleh isu seputar pelengseran Anas Urbaningrum sebagai Ketum Demokrat. Statistik menunjukkan bahwa 54% pemberitaan seputar kasus wisma atlet diisi oleh sub topik tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa fokus media dan perhatian publik semakin tertuju pada wacana yang lebih strategis. Perubahan orientasi media terkait isu wisma atlet ini, menyebabkan kalangan internal Partai Demokrat terlibat dalam perang argumentasi berkepanjangan. Hal ini dapat dilihat dari daftar narasumber teratas yang didominasi oleh tokoh-tokoh politik Demokrat. Adapun pernyataan tokoh-tokoh Demokrat tersebut mengarah pada pembahasan mengenai nasib Anas sebagai Ketum di kalangan Dewan Pembina Partai.

Seperti diketahui, sejak nama Anas Urbaningrum sering dikaitkan dengan kasus suap wisma atlet, kondisi internal Partai Demokrat semakin bergejolak. Hal ini mendorong Dewan Pembina partai menggelar rapat guna membahas dugaan keterlibatan beberapa politisi Demokrat seperti Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh dan Mirwan Amir. Mengingat posisinya yang begitu strategis di tubuh DPP Demokrat, isu keterlibatan Anas menjadi perhatian utama para petinggi partai termasuk Presiden SBY selaku Ketua Wanbin. Kontroversi semakin mencuat ketika salah seorang anggota Wanbin, Ahmad Mubarok, membocorkan hasil rapat yang diantaranya juga membahas nasib Anas sebagai ketua umum. Pernyataan Mubarok seketika memicu reaksi dari berbagai kalangan. Kelompok pendukung Anas seperti Ramadhan Pohan, Saan Mustopa hingga Ruhut Sitompul membantah adanya upaya pelengseran Anas oleh Dewan Pembina partai. Namun yang cukup mengejutkan, di penghujung Januari yang lalu, Ruhut yang selama ini membela Anas melalui pernyataannya di berbagai media, justru berbalik mendorong pengunduran diri Anas dari jabatan Ketum Demokrat.

Sementara itu, di samping kontradiksi para politisi Demokrat, media juga turut menyoroti proses hukum Nazaruddin dan beberapa tersangka lainnya. Sebesar 29% porsi pemberitaan diisi oleh topik tersebut dengan mengambil angle proses persidangan di pengadilan Tipikor. Peristiwa penting yang menjadi sorotan publik adalah perdebatan antara kuasa hukum Nazaruddin dengan para saksi seperti Julianis dan Mindo Rosalina Manullang. Keterangan ketiganya baik itu Julianis, Nazaruddin dan Mindo Rosalina menjadi pernyataan paling dominan, seperti yang terlihat dalam grafis di atas.


 

 

 

 

Sebesar 17% porsi pemberitaan kasus suap wisma atlet diwarnai oleh isu perpecahan di tubuh KPK. Topik ini memanas pasca beredar kabar bahwa KPK akan segera mengumumkan tersangka baru dalam kasus suap wisma atlet. Berbagai media menyoroti terjadinya perbedaan pendapat di antara kelima pimpinan KPK dalam menyikapi hal tersebut. Abraham Samad yang bersikukuh ingin segera menetapkan tersangka baru, tidak mendapatkan dukungan dari pimpinan KPK lainnya. Secara formil, hal ini sangat mungkin terjadi karena dua alat bukti yang dimiliki KPK dianggap belum mencukupi untuk menaikkan status salah seorang saksi menjadi tersangka. Para pimpinan KPK yang diisi oleh figur-figur senior, terkesan lebih berhati-hati untuk menghindari preseden buruk karena KPK tidak memiliki kewenangan SP3. 

Sebagai institusi yang sering bersinggungan dengan DPR, polemik yang terjadi di tubuh KPK inipun disoroti secara intensif oleh lembaga legislatif tersebut. Tercatat beberapa politisi DPR turut mengomentari isu seputar konflik internal KPK tersebut. Di antaranya adalah politisi PKS, Aboebakar Al Habsyi dan politisi Hanura, Akbar Faisal. Para politisi DPR ini mengkhawatirkan, perpecahan di tubuh KPK juga turut dipengaruhi oleh adanya intervensi politik kelompok penguasa. Sementara Ketua KPK sendiri lebih cenderung defensif dan tidak banyak beropini. Counter opinion dari pihak KPK lebih banyak dilakukan oleh juru bicaranya, Johan Budi. Tidak adanya pembelaan diri secara pro aktif oleh KPK, menunjukkan bahwa KPK sengaja menghindari perang opini yang berkepanjangan.


 

 

2.  Pembatasan BBM Bersubsidi

3.  Kasus Suap DGS Bank Indonesia




>